Oleh: Hasibuddin*


Perjalanan itu dimulai Senin, 28 September 2026. Sekitar pukul 16.30 WIB, kami mulai berkumpul di Sampang. Sebagian anggota Persatuan Jurnalis Sampang (PJS) sudah tiba di titik keberangkatan, sementara beberapa lainnya menyusul. Dengan menggunakan kendaraan Hiace, rombongan kemudian bergerak meninggalkan Sampang menuju Jombang dan selanjutnya Yogyakarta. Kecepatan kendaraan berada di kisaran 80–100 kilometer per jam, menyesuaikan kondisi jalan dan lalu lintas.

Sebelum melanjutkan perjalanan jauh, kami sempat berhenti di Bangkalan untuk makan. Setelah itu perjalanan diteruskan menuju Jombang. Tujuan pertama bukan tempat wisata, melainkan Tebuireng, tempat makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur berada. Ngalap berkah sebelum pemberangkatan memang sudah jadi agenda khusus kami. Apalagi, perjalanan ini hendak menuju kongres dan memilih nakhoda baru untuk PJS.

foto bersama di salah satu rest area

Perjalanan malam membuat suasana di dalam kendaraan lebih banyak diisi dengan istirahat dan percakapan ringan, sesekali memang menghidupkan musik yang sayup-sayup terdengar di telinga. Beberapa waktu sebelum tiba di Tebuireng, kami sempat berhenti di rest area untuk melaksanakan salat Magrib dan Isya secara jamak qashar.

Menjelang tengah malam, rombongan tiba di kawasan Tebuireng. Waktu sudah larut, tetapi suasana di sekitar makam masih cukup ramai oleh para peziarah. Kami menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk berziarah dan berdoa. Setelah itu, sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta, kami menyempatkan diri menikmati kopi di sebuah angkringan di sekitar kawasan makam. Perjalanan malam yang panjang terasa sedikit lebih ringan setelah duduk sebentar, menyeruput kopi, dan berbincang santai.

Foto bersama di lokasi ziarah makam gus dur

Dari Jombang, kendaraan kembali bergerak menuju Yogyakarta. Perjalanan berlangsung hingga menjelang pagi. Ketika memasuki kawasan Klaten, kami berhenti di sebuah masjid di Jalan Raya Solo–Yogyakarta, kawasan Koplak, Kebondalem Kidul. Di tempat itu kami menunaikan salat Subuh sekaligus sarapan. Ada kantin yang menyediakan berbagai makanan dan minuman, termasuk kopi. Setelah beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Gunung Merapi.

Pagi itu, Selasa, 29 September 2026, kami tiba di kawasan wisata lereng Merapi, tepatnya di sekitar Jalan Bebeng, Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Karena tidak semua anggota PJS yang berjumlah 14 orang ikut dalam perjalanan, rombongan kemudian dibagi menggunakan tiga unit Jeep. Kendaraan jenis ini memang menjadi pilihan untuk menjelajah jalur wisata lereng Merapi yang tidak semuanya bisa dilalui kendaraan biasa.

Tujuan pertama adalah petilasan Mbah Marijan di kawasan Kinahrejo. Nama Mbah Marijan tentu tidak asing bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang mengikuti kisah Gunung Merapi dan erupsi besar 2010. Mbah Marijan, yang memiliki nama asli Mas Penewu Surakso Hargo, dikenal sebagai juru kunci Merapi.

Nama Mbah Marijan semakin dikenal luas setelah rangkaian erupsi Merapi pada 2010. Ia meninggal dunia pada 26 Oktober 2010 setelah kawasan Kinahrejo diterjang awan panas. Laporan ANTARA menyebut jasadnya ditemukan dalam posisi bersujud di rumahnya setelah awan panas menerjang kawasan tersebut.

Bagi kami, mengunjungi petilasan itu bukan sekadar bagian dari rute wisata. Ada sejarah panjang tentang Merapi yang terasa lebih dekat ketika melihat langsung kawasan yang pernah menjadi tempat tinggal Mbah Marijan. Di lokasi itu, cerita tentang manusia yang hidup berdampingan dengan gunung api terasa berbeda ketika dibandingkan dengan sekadar membaca atau menontonnya dari layar.

Dari petilasan, perjalanan Jeep berlanjut menuju sejumlah titik yang menjadi bagian dari Lava Tour Merapi. Salah satunya Batu Alien. Dari kawasan ini, bentang lereng Merapi terlihat lebih jelas. Kami juga mendapat penjelasan mengenai Kali Gendol, salah satu alur yang menjadi jalur penting bagi material vulkanik Merapi, termasuk awan panas dan lahar.

Merapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Badan Geologi mencatat bahwa jarak rata-rata antarerupsi Merapi sekitar empat tahun, meskipun karakter dan besar setiap erupsi tidak selalu sama. Erupsi 2010 menjadi salah satu letusan terbesar dalam sejarah aktivitas Merapi modern dan dikategorikan memiliki indeks eksplosivitas gunung api atau VEI 4.

Karena itu, kurang tepat jika disebut bahwa erupsi terakhir Merapi terjadi pada 2010. Yang lebih tepat, 2010 merupakan salah satu rangkaian erupsi besar Merapi yang paling banyak dikenang, sementara setelah itu aktivitas erupsi Merapi masih terus berlangsung dalam tahun-tahun berikutnya.

Dari kawasan Batu Alien, Jeep kembali membawa kami menyusuri jalur wisata. Perjalanan dengan Jeep sesekali membuat badan ikut bergoyang mengikuti kondisi jalan. Setelah cukup berkeliling, kami berhenti di sebuah tempat yang dikenal sebagai tempat kopi Merapi. Di sana tersedia berbagai jenis kopi dan makanan ringan. Kami kembali mengambil jeda sebelum melanjutkan perjalanan.

Tujuan berikutnya adalah Bunker Kaliadem. Tempat ini memiliki sejarah yang cukup kelam dalam catatan erupsi Merapi. Bunker tersebut dibangun sebagai tempat perlindungan dari ancaman awan panas. Namun dalam erupsi 14 Juni 2006, bunker justru menjadi lokasi ditemukannya dua relawan, Warjono dan Sudarwanto, yang meninggal dunia setelah berlindung di dalamnya. Laporan ANTARA menyebut suhu di dalam bunker ketika itu sangat tinggi, bahkan mencapai lebih dari 200 derajat Celsius.

Kini Bunker Kaliadem menjadi salah satu titik kunjungan wisata di kawasan Merapi. Di satu sisi, tempat itu menawarkan pemandangan lereng Merapi. Namun di sisi lain, keberadaannya mengingatkan bahwa kawasan tersebut bukan sekadar destinasi wisata. Ada sejarah bencana dan kehilangan yang melekat di dalamnya.

Setelah dari Bunker Kaliadem, kami melanjutkan perjalanan menuju jalur yang dikenal dengan aktivitas offroad air Merapi. Jeep membawa kami melewati jalur berbatu dan aliran air di kawasan lereng Merapi. Sensasinya berbeda dengan perjalanan biasa. Kendaraan beberapa kali masuk ke jalur air dan medan yang membuat perjalanan terasa lebih menantang. Tawa dan teriakan spontan beberapa anggota rombongan muncul ketika Jeep melewati bagian jalur yang cukup ekstrem.

Dari kawasan Merapi, kami kemudian kembali ke titik kumpul di Grinata sebelum menuju vila di kawasan Tlogo, Ambarketawang, Gamping, Sleman. Vila tersebut menjadi tempat kami beristirahat sekaligus lokasi pelaksanaan agenda utama perjalanan, yakni Kongres II PJS dan peringatan HUT ke-5 PJS.

Malam harinya, kongres berlangsung cukup alot. Dua nama dinyatakan memenuhi persyaratan untuk maju sebagai calon ketua, yakni Khoirul Anam dan Imron Muslim. Ketua panitia, Hanafi, menyampaikan bahwa berdasarkan AD/ART, kedua calon telah melalui proses verifikasi dan dinyatakan memenuhi persyaratan.

Dalam pemungutan suara yang diikuti 12 pemilik suara sah, hasilnya sama kuat: Imron Muslim memperoleh enam suara dan Khoirul Anam juga memperoleh enam suara. Tidak ada yang lebih tinggi. Kongres kemudian mengacu pada mekanisme organisasi untuk menyelesaikan hasil imbang tersebut melalui musyawarah.

Pembahasan tidak langsung menghasilkan keputusan pada malam itu. Setelah mempertimbangkan mekanisme yang berlaku dalam organisasi, keputusan mengenai kepemimpinan PJS ditunda dan dilanjutkan pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Pada akhirnya, melalui musyawarah, Imron Muslim disepakati menjadi Ketua PJS periode 2026–2029, sedangkan Khoirul Anam dipercaya sebagai sekretaris. Keduanya menyampaikan komitmen untuk melanjutkan roda organisasi dan menjaga agar PJS tetap berjalan. Visi dan misi yang disampaikan dalam kongres juga diharapkan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat dirangkai dan diwujudkan dalam perjalanan organisasi ke depan.

Setelah rangkaian kongres selesai, malam itu kami beristirahat. Selasa malam berlalu dengan suasana yang jauh lebih tenang setelah perjalanan panjang dan agenda organisasi yang cukup menguras energi.

Jeda Sebelum Kongres Usai

Kongres PJS saat ini terbilang melelehkan, tak selesai hanya dalam hitungan jam. Di saat sidang buntu, tepatnya sehari sebelum putusan siapa yang bakal memimpin PJS, kami menuju kawasan pantai. Tujuan pertama adalah Pantai Mbuluk. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju The Rock, yang menjadi salah satu lokasi lain yang kami kunjungi hari itu. Kami menikmati suasana pantai, mengambil beberapa foto, dan menghabiskan waktu bersama sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi wisata berikutnya.

Malam harinya, kami menuju Malioboro. Jalanan masih cukup ramai ketika rombongan tiba. Kami berjalan menyusuri kawasan tersebut, melihat suasana kota, menikmati jajanan dan sekadar menghabiskan waktu bersama setelah beberapa hari sebelumnya lebih banyak berada di perjalanan. Sekitar pukul 23.00 WIB, kami kembali ke vila.

Sebelum rehat, pembahasan sidang berlanjut, sesuai musyawarah yang berlangsung satu jam, akhirnya diputuskan Imron Muslim yang memimpin PJS selama tiga tahun ke depan. Sementara Anam bersikap dewasa dan mengalah. ketika salah satu dari kami bertanya, dia hanya menjawab santai

“Jika semua mau jadi ketua, maka roda organisasi tak akan pernah selesai dengan pertempuran”, begitu lugas dia menyampaikan.

usai putusan selesai kami pun istirahat.

Kamis pagi, 1 Oktober 2026, rombongan kembali bersiap. Kali ini tujuan kami adalah Solo. Tidak ada agenda khusus selain keinginan sebagian rombongan untuk bertemu dan berjabat tangan dengan Joko Widodo, Presiden ke-7 Republik Indonesia. Saya sendiri memandang pertemuan itu sebagai bagian dari perjalanan saja. Tidak ada agenda politik khusus. Sebagai warga negara, saya menghormati para presiden yang pernah memimpin Indonesia. Namun secara pribadi, ada satu sosok yang sejak dulu memang lebih dekat dengan kekaguman saya, yakni Gus Dur. Karena itu, perjalanan ke Solo ini lebih saya maknai sebagai pengalaman bertemu langsung dengan salah satu tokoh yang pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia. Tetapi beberapa orang di antara kami memang ada yang secara khusus mengidolakan Jokowi.

Sesampainya di kediaman Jokowi, ternyata sudah ada cukup banyak orang yang datang. Mereka mengantre dengan tujuan yang kurang lebih sama, ingin bertemu dan bersalaman. Bahkan ada warga yang datang dari Tangerang. Melihat antrean tersebut, kami sempat terkejut karena ternyata keinginan untuk sekadar bertemu dan bersalaman tidak hanya datang dari orang-orang yang berada di sekitar Solo.

Setelah dari Solo, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Madura. Tidak ada lagi agenda besar yang menunggu. Sebagian besar waktu dihabiskan di dalam kendaraan, dengan tubuh yang mulai terasa lelah setelah beberapa hari berpindah tempat.

Rombongan akhirnya tiba kembali di Madura pada Jumat, 2 Oktober 2026 dini hari. Perjalanan yang dimulai Senin sore dari Sampang itu berakhir setelah melewati beberapa kota, berziarah ke makam Gus Dur, menjelajah lereng Merapi, mengikuti Kongres II PJS, menikmati wisata pantai dan Malioboro, hingga akhirnya singgah di Solo.

Lima hari perjalanan itu pada akhirnya bukan hanya soal berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ada perjalanan organisasi, ada sejarah yang kami datangi langsung, ada wisata, ada obrolan panjang di dalam kendaraan, dan tentu saja ada cerita-cerita kecil yang mungkin tidak tercatat dalam agenda resmi. Dari Sampang menuju Jombang, Yogyakarta, Solo, lalu kembali ke Madura, perjalanan itu menjadi bagian dari catatan PJS yang mungkin akan selalu diingat, bukan hanya karena kongresnya, tetapi juga karena jalan panjang yang kami tempuh bersama.

*Penulis adalah Anggota Persatuan Jurnalis Sampang