YAKUSA.ID – Sebanyak 40 siswa Binar Junior High School mengunjungi kawasan pertanian garam di Kampung Tapakerbau, Desa Gersik Putih, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Kamis 22 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran tematik bertema Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Didampingi empat guru, para siswa mempelajari secara langsung proses pembuatan garam serta mengenal potensi sumber daya lokal yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Perwakilan kepala sekolah Binar Junior High School mengatakan, kunjungan tersebut merupakan penerapan kurikulum ESDIGIS yang menempatkan potensi sumber daya lokal sebagai bagian dari pembelajaran.
“Tujuan kami ke sini untuk belajar proses pembuatan garam. Ini bagian dari mata pelajaran tematik dengan tema pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.
“Kami menerapkan kurikulum ESDIGIS dengan mengangkat sumber daya lokal, lebih spesifiknya garam,” ujarnya, menegaskan.
Menurutnya, pembelajaran di luar kelas diperlukan agar siswa tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga mengetahui proses produksi, mengenal pekerjaan masyarakat, dan memahami peluang ekonomi dari potensi daerah.
Ia menjelaskan, peserta kegiatan merupakan siswa angkatan ketiga Binar Junior High School. Adapun kunjungan ke Kampung Tapakerbau menjadi kegiatan belajar lapangan kedua yang dilaksanakan sekolah tersebut.
Selain memperkenalkan proses produksi garam, pihak sekolah berharap pertanian garam di Kampung Tapakerbau dapat berkembang melalui peningkatan produksi dan perluasan jangkauan pemasaran.
Sekolah juga mendorong siswa untuk mengembangkan kreativitas dalam memanfaatkan garam sebagai bahan baku berbagai produk bernilai tambah.
“Kami berharap anak-anak tidak berhenti hanya pada kegiatan belajar. Mereka juga bisa berkreasi dalam pemanfaatan garam, sehingga ke depan muncul gagasan-gagasan baru yang dapat memberikan nilai tambah bagi sumber daya lokal,” ungkapnya.
Pihak sekolah turut mendukung peluang pengembangan Kampung Tapakerbau sebagai kawasan edukasi wisata atau eduwisata berbasis pertanian garam. Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi untuk menjadi tempat pembelajaran terbuka yang mempertemukan kegiatan pendidikan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Akses menuju kawasan pertanian garam yang mengharuskan pengunjung menyeberang dan menyusuri pematang menjadi bagian dari pengalaman belajar di lapangan. Melalui pengembangan yang terencana, kawasan tersebut diharapkan dapat menarik pengunjung sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat setempat.
Ketua RT 001 RW 001 Kampung Tapakerbau, Ahmad Shidiq, menyambut positif kunjungan tersebut. Ia berharap kegiatan itu memberikan manfaat bagi siswa sekaligus memperkenalkan wilayahnya sebagai salah satu kawasan pertanian garam di Sumenep.
“Saya senang sekali dengan kunjungan Binar hari ini karena bisa menjadi tujuan pembelajaran. Semoga anak-anak mendapatkan pengetahuan dan wawasan,” kata Ahmad Shidiq.
Kunjungan tersebut menjadi upaya Binar Junior High School untuk menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan kehidupan masyarakat.
Melalui pengenalan langsung terhadap proses produksi garam, siswa diharapkan dapat memahami peran petani, menghargai pekerjaan masyarakat, serta melihat peluang pengembangan ekonomi dari sumber daya lokal.
Kampung Tapakerbau pun diharapkan semakin dikenal tidak hanya sebagai kawasan pertanian garam, tetapi juga sebagai lokasi potensial untuk kegiatan edukasi yang mendukung pengenalan potensi daerah kepada generasi muda.






