Oleh: Survia Eva Putriani (Top 5 Dubas Kepri 2021)
Pemuda merupakan potensi dan aset pembangunan manusia yang sangat besar dan memiliki posisi strategis sebagai penentu pembangunan suatu bangsa. Menurut COO Think Policy Indonesia sekaligus Adviser Data Science Indonesia Prasetya Dwicahya, kanal yang menyuarakan isu dan kebutuhan anak muda nasional belum terlihat di tataran legislatif. ”Padahal, sejumlah isu nasional relevan dengan kebutuhan dan situasi kaum muda saat ini. Contohnya, kebutuhan penguatan literasi, krisis iklim yang berdampak pada kondisi bumi saat ini dan masa depan, hingga akses anak muda terhadap hunian dan pekerjaan yang layak”.
Menurut data Kementerian Dalam Negeri untuk per 5 Maret 2024, tercatat ada 554.692 ormas di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 1.530 ormas terdaftar dengan Surat Keterangan Terdaftar (SKT), sedangkan 553.162 lainnya sudah berbadan hukum. Namun dari data diatas, ketika kita melihat fakta lapangan sudah berapa banyak organisasi yang secara konsisten bergerak dan mengawal isu-isu publik serta kebijakan pemerintah yang berhubungan langsung dengan kesejahteraan masyarakat.
Alih-alih mengawal kebijakan publik dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, sering didapati maraknya praktik premanisme dalam sebuah ormas seperti pemalakan terhadap masyarakat yang membangun usaha, dengan alasan uang keamanan. Dan ada banyak kasus organisasi dimana kader didalamnya mencari kehidupan diorganisasi itu sendiri. Dalam artian, menjual nama organisasi untuk kepentingan kantong sendiri atau golongan. Dalam praktiknya, seringkali menggunakan organisasi membawa sebuah gugatan terhadap suatu lembaga namun setelah terjadi deal-deal pimpinan organisasi hilang senyap.
Dalam kasus lainnya yakni pencucian uang mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari yang ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang atau TPPU pada 27 Desember 2017. Yang melibatkan Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum Majelis Nasional PP (Pemuda Pancasila) sehingga rumahnya digeledah oleh KPK. Kasus diatas merupakan sebuah gunung es. Yang tidak tersorot lebih mengakar dibawahnya. Sehingga arah organisasi dibawa untuk kepentingan pragmatis.
Ketika berbicara tentang organisasi bisa ditarik benang merahnya seluruh organisasi bervisikan tentang pengembangan diri dan memperjuangkan harkat serta martabat masyarakatnya. Berkaca dari permasalahan organisasi yang sudah menjamur di Indonesia, maka membutuhkan sebuah metode pendekatan sebagai rel ketika sebuah organisasi dijalankan. Pemuda harus berperan mengalihkan rel pragmatis menjadi humanis.
Dalam KBBI sendiri humanisme berarti aliran atau pemikiran yang bertujuan untuk menghidupkan rasa peri kemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik.
Menjadikan organisasi sebagai alat instrumen sosial yang mengawal negara dalam menjawab kebutuhan masyarakatnya. Menciptakan atmosfer kerjasama yang sehat dan memperkuat membawa gagasan yang lebih inovatif. Dalam hal ini, peningkatan SDM dan penguatan idealisme suatu organisasi menjadi jantung perubahan organisasi. Meningkatkan intensitas SDM organisasi dalam bidang literasi serta diskusi akar rumput, baik itu diskusi dalam proses pengembangan diri maupun melakukan kajian terhadap isu-isu nasional. Menekankan aspek moralitas kepada setiap kader organisasi.


