YAKUSA.IDUniversitas Insan Cita Indonesia (UICI) menggelar webinar bertajuk “Di Balik Paket yang Kita Terima: Tantangan Supply Chain Logistik Indonesia” pada Senin, 12 Januari 2026. Kegiatan ini menghadirkan dosen Program Studi Teknik Industri UICI, Baiq Nurul Farida, sebagai narasumber utama.

Dalam paparannya, Baiq menjelaskan bahwa paket yang diterima masyarakat setiap hari merupakan ujung dari sistem supply chain logistik yang kompleks dan saling terhubung. Menurutnya, keterlambatan pengiriman atau penumpukan paket tidak bisa dilihat sebagai masalah terpisah, melainkan cerminan rapuhnya sistem ketika salah satu simpul mengalami gangguan.

Ia mencontohkan penumpukan paket di gudang jasa ekspedisi akibat lonjakan pengiriman saat promo besar e-commerce, hingga terhentinya lalu lintas kapal di Terusan Suez pada 2021 yang berdampak luas terhadap perdagangan global.

“Dua kasus ini menunjukkan bahwa sistem logistik bisa sangat rapuh ketika terjadi gangguan pada satu simpul,” ujarnya.

Baiq juga memaparkan kinerja logistik Indonesia yang masih menghadapi tantangan struktural. Berdasarkan Logistics Performance Index (LPI) 2023, Indonesia mencatat skor 3,0 dan berada di peringkat ke-61 dunia. Meski berada di atas rata-rata negara berpendapatan menengah, posisi tersebut masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Selain itu, biaya logistik Indonesia masih tergolong tinggi, yakni sekitar 14,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Tingginya biaya ini dipengaruhi oleh keterbatasan integrasi infrastruktur, mahalnya transportasi darat dan tarif tol, serta ketidakseimbangan arus balik logistik atau backhauling antarwilayah.

“Banyak truk dan kontainer kembali tanpa muatan, terutama dari wilayah timur ke barat, sehingga menimbulkan pemborosan biaya perjalanan,” jelasnya.

Pertumbuhan pesat e-commerce turut memberi tekanan besar pada sektor logistik, khususnya pada tahap last-mile delivery. Nilai transaksi e-commerce Indonesia pada 2024 tercatat menembus Rp1.200 triliun, dengan mayoritas pelaku berasal dari usaha mikro. Kondisi ini mendorong pengiriman paket kecil dalam jumlah besar dan tersebar, yang berdampak pada meningkatnya beban operasional perusahaan logistik.

Tingginya penggunaan metode pembayaran cash on delivery (COD) juga menambah kompleksitas. Kurir tidak hanya bertugas mengantar barang, tetapi juga melakukan penagihan sekaligus menanggung risiko retur.

Dalam webinar tersebut, Baiq turut mengulas studi kasus rantai pasok sapi potong. Ia menjelaskan bahwa biaya pengiriman sapi lokal antarpulau justru lebih mahal dibandingkan sapi impor. Hal ini disebabkan oleh sistem transportasi yang masih tradisional dan penanganan logistik yang belum optimal, sehingga menimbulkan penyusutan bobot ternak dan kerugian ekonomi.

Sebagai upaya perbaikan, pemerintah mendorong berbagai kebijakan, mulai dari penyelarasan infrastruktur multimoda, pemberian insentif pajak bagi jasa pengiriman, hingga penguatan National Logistics Ecosystem (NLE) untuk mengintegrasikan data dan proses logistik lintas instansi. Digitalisasi dan penyederhanaan perizinan diharapkan mampu menekan waktu tunggu di pelabuhan dan menurunkan biaya distribusi.

Menutup pemaparannya, Baiq menegaskan bahwa perbaikan sistem logistik tidak hanya berdampak pada efisiensi industri, tetapi juga berpengaruh langsung pada kehidupan masyarakat.

“Paket yang kita terima adalah cerminan dari sistem logistik nasional. Jika sistemnya membaik, maka kualitas layanan dan keseharian masyarakat juga ikut meningkat,” katanya.