YAKUSA.IDUniversitas Insan Cita Indonesia (UICI) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesadaran kesehatan mental di era digital. Melalui Program Studi Digital Neuropsikologi, UICI menggelar webinar bertajuk “Digital Anxiety: Navigating Stress in Hyper Connected World” secara daring pada Jumat (09/01/2026).

Webinar ini menjadi respons atas meningkatnya fenomena kecemasan akibat penggunaan teknologi digital dan media sosial yang semakin masif dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, serta masyarakat umum mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias.

Rektor UICI, Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa kecemasan pada dasarnya merupakan bagian dari mekanisme biologis manusia.

Namun, ia mengingatkan bahwa arus informasi digital yang terus mengalir tanpa henti dapat memperburuk kondisi tersebut dan memicu ketergantungan terhadap perangkat digital.

“Ketika otak terus-menerus menerima stimulasi tanpa ruang jeda, kemampuan manusia untuk mengelola stres menjadi terganggu. Di sinilah pentingnya kesadaran dalam menggunakan teknologi,” ujarnya.

Sementara itu, dosen Digital Neuropsikologi UICI sekaligus psikolog klinis, Lucy Lidiawati Santioso, menjelaskan bahwa digital anxiety muncul sebagai dampak dari kondisi overstimulasi dalam dunia yang serba terkoneksi.

Menurutnya, paparan notifikasi yang intens, cahaya layar, serta derasnya arus informasi membuat otak jarang memiliki kesempatan untuk beristirahat secara optimal.

“Paparan notifikasi, cahaya layar, serta banjir informasi membuat otak jarang mendapatkan waktu istirahat yang cukup,” jelas Lucy.

Ia menegaskan bahwa digital anxiety bukan merupakan diagnosis gangguan mental, melainkan bentuk kecemasan yang dipicu oleh penggunaan teknologi secara berlebihan.

Kondisi ini dapat ditandai dengan berbagai gejala, seperti rasa gelisah saat jauh dari ponsel, kelelahan mental, hingga kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial.

“Dampak serupa, menurutnya, juga dapat terjadi pada anak-anak yang terbiasa menggunakan gawai sejak usia dini,” tambahnya.