YAKUSA.ID — Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Madura bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar program NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) atau Program Peningkatan Mutu Pendidikan Islam.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 19–20 Oktober 2026, tersebut dimulai pada Senin (19/10/2026) di Hotel Myze Sumenep.
Kegiatan ini menjadi wadah dialog yang mempertemukan unsur legislatif, akademisi, praktisi pendidikan, tokoh masyarakat, guru madrasah, serta pengelola lembaga pendidikan Islam di wilayah Madura.
Dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Ansari, menyoroti tantangan pendidikan di Madura, khususnya terkait motivasi sebagian remaja untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia menilai, kecenderungan sebagian remaja memilih langsung bekerja setelah lulus sekolah, seperti bekerja di industri rokok atau merintis usaha warung 24 jam karena tergiur penghasilan instan, menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Sebagai salah satu upaya mengatasi hambatan ekonomi dalam pendidikan, Hj. Ansari memaparkan komitmen Komisi VIII DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Agama dalam mendukung penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) melalui jalur aspirasi.
Menurutnya, dukungan tersebut diharapkan dapat membantu peserta didik dari keluarga yang membutuhkan agar tetap memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Selain membahas akses pendidikan, rangkaian NGOPI di Hotel Myze Sumenep juga menghadirkan materi sesi kelima dan keenam yang berfokus pada penguatan karakter serta peningkatan kompetensi profesional guru madrasah.
Sesi kelima mengangkat tema Bimbingan Teknis Integrasi Moderasi Beragama dan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Madrasah.
Pada sesi ini, Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Madura, Prof Siswanto, menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran. Nilai tersebut mencakup komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan penghargaan terhadap kearifan lokal.
Sementara itu, Muhammad Faizi menyoroti pentingnya sinergi antara guru dan keluarga dalam memahami karakter serta kondisi psikologis peserta didik. Ia mencontohkan anak dengan gaya belajar kinestetik yang membutuhkan ruang untuk bergerak agar tidak serta-merta dicap nakal ketika berada di kelas.
Sesi keenam mengangkat tema Klinik Penelitian Tindakan Kelas dan Publikasi Praktik Baik Guru Madrasah, dengan menghadirkan Miftahul Fajar Shodiq sebagai narasumber kedua.
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) harus berangkat dari persoalan nyata dalam pembelajaran. Proses tersebut dilanjutkan dengan penerapan tindakan, pengamatan terhadap dampaknya, serta refleksi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.
Miftahul Fajar Shodiq juga menguraikan sejumlah tantangan yang dihadapi guru, mulai dari belum meratanya akses pendampingan penelitian, beban administrasi yang menyita waktu, hingga keterbatasan fasilitas dan akses publikasi ilmiah.
Karena itu, ia mendorong penguatan pelatihan penulisan karya ilmiah, pendampingan penyusunan proposal dan laporan PTK, serta publikasi artikel praktik baik yang dapat menjadi sarana berbagi inovasi pembelajaran antarguru.
Kegiatan di Hotel Myze Sumenep tersebut berlangsung interaktif melalui sesi dialog. Para peserta, mulai dari guru, pengelola pendidikan anak usia dini (PAUD), hingga kader masyarakat, turut menyampaikan aspirasi mengenai berbagai hambatan pendidikan di tingkat akar rumput.
Melalui program NGOPI, dialog antara pemangku kebijakan, akademisi, dan praktisi pendidikan diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang adaptif, moderat, dan berkarakter, sekaligus mendorong peningkatan mutu pembelajaran di madrasah.






