YAKUSA.ID – Suidah masih ingin mengajar ngaji meski usianya telah mencapai 100 tahun. Perempuan asal Dusun Toronan, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, itu tetap berusaha mengabdikan diri di tengah keterbatasan pendengaran dan kehidupannya yang sebatang kara.
Keinginan untuk terus mengajarkan Al-Qur’an menjadi bagian penting dalam kehidupan Suidah. Ia berharap ilmu yang dibagikannya selama ini menjadi amal jariyah, selama dirinya masih mampu menjalankan aktivitas tersebut.
“Saya masih ingin mengajar ngaji selama masih mampu. Semoga ilmu yang saya ajarkan menjadi amal jariyah,” tuturnya, Senin (12/10/2026).
Kisah Suidah mendapat perhatian anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Ansari. Dalam dialog bersama Suidah, Ansari mendengarkan kisah perjuangan sekaligus kebutuhan perempuan lanjut usia tersebut, yang masih ingin mengajar ngaji meski mengalami gangguan pendengaran.
Suidah menjadi salah satu penerima bantuan alat bantu dengar melalui Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) Kementerian Sosial. Bantuan itu diserahkan dalam kegiatan di Rumah Aspirasi, Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Senin (12/10/2026).
Bagi Ansari, bantuan yang diberikan kepada masyarakat perlu disesuaikan dengan kebutuhan penerimanya. Alat bantu dengar, misalnya, menjadi salah satu bentuk dukungan bagi warga yang mengalami gangguan pendengaran dan membutuhkan perhatian dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
“Bagi kita yang mampu, mungkin bantuan itu terlihat kecil. Tetapi bagi mereka yang membutuhkan, manfaatnya luar biasa,” ungkap Ansari.
Ia menjelaskan, bantuan sosial melalui program ATENSI dapat berupa berbagai kebutuhan, mulai dari alat bantu dengar, kaki palsu, hingga kursi roda. Setiap bantuan memiliki arti tersendiri bagi penerimanya, terutama mereka yang menghadapi keterbatasan fisik maupun kondisi sosial yang membutuhkan perhatian.
Ansari juga menceritakan pengalaman seorang penerima manfaat yang selama beberapa tahun tidak bisa keluar rumah karena mengalami stroke. Setelah mendapatkan kursi roda, penerima manfaat tersebut akhirnya dapat kembali keluar rumah dengan bantuan anaknya.
“Alhamdulillah, dengan izin Allah, setelah diberikan kursi roda, anaknya bisa membawa ibunya keluar, berjalan-jalan, dan terkena sinar matahari. Rasa syukur dan terima kasihnya luar biasa,” tuturnya.
Pengalaman tersebut, menurut Ansari, menunjukkan bahwa bantuan yang sesuai kebutuhan dapat memberikan arti besar bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, ia berupaya menjadi penghubung antara warga yang membutuhkan dengan kementerian terkait agar mereka dapat mengakses bantuan melalui mekanisme yang tersedia.
“Kalau ada masyarakat yang membutuhkan, mereka bisa menyampaikan kepada saya. Kemudian saya ajukan kepada Kementerian Sosial agar mendapatkan bantuan yang diharapkan,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, belasan warga menerima bantuan sesuai kebutuhan masing-masing, termasuk bantuan modal usaha melalui program ATENSI.
Bagi Ansari, mendengarkan kebutuhan masyarakat merupakan bagian penting dari tanggung jawab sebagai wakil rakyat. Aspirasi warga, khususnya kelompok lanjut usia dan masyarakat dengan keterbatasan fisik, perlu mendapat perhatian agar kebutuhan mereka dapat diupayakan melalui program pemerintah.






