YAKUSA.ID – Inovasi perguruan tinggi tidak lagi berhenti di laboratorium dan publikasi ilmiah. Melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, kolaborasi akademisi berhasil membawa teknologi Internet of Things (IoT) langsung ke lahan petani melalui pengembangan greenhouse pintar bersama Kelompok Tani Daun Mas 1, Desa Kedung Rejoso, Kabupaten Probolinggo.
Program ini didukung pendanaan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.
Kegiatan diketuai oleh Moh. Shadiqur Rahman, Ph.D., dosen Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya, dengan melibatkan Rizky Dwi Putri, Ph.D. dari Universitas Negeri Malang. Kolaborasi lintas perguruan tinggi tersebut diarahkan untuk menjembatani kesenjangan antara perkembangan teknologi pertanian dengan kemampuan petani dalam menggunakannya di lapangan.
Teknologi yang diterapkan berupa greenhouse yang terintegrasi dengan sistem IoT untuk memonitor kondisi lingkungan tanaman. Sensor digunakan untuk merekam suhu, kelembapan udara, dan kelembapan tanah secara real time. Informasi tersebut selanjutnya dapat menjadi dasar bagi petani dalam menentukan tindakan budidaya, terutama penyiraman dan pemeliharaan tanaman.
Penerapan teknologi ini menjadi penting karena sebagian aktivitas budidaya pada kelompok mitra sebelumnya masih dilakukan secara konvensional.
Penyiraman, pemupukan, dan pemeliharaan tanaman banyak didasarkan pada kebiasaan dan pengalaman tanpa dukungan data lingkungan yang terukur. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap produktivitas yang tidak stabil dan meningkatkan risiko kegagalan produksi ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem.
Ketua tim, Moh. Shadiqur Rahman, Ph.D., mengatakan bahwa salah satu ukuran keberhasilan perguruan tinggi adalah ketika pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan dapat diterjemahkan menjadi solusi yang benar-benar digunakan masyarakat.
“Perguruan tinggi memiliki riset, sumber daya manusia, dan teknologi. Tantangannya adalah bagaimana semua itu dapat keluar dari kampus dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat. Melalui program ini, kami mencoba mengubah pengetahuan mengenai greenhouse dan IoT menjadi sistem yang bisa digunakan petani dalam kegiatan produksi sehari-hari, ujar Shadiqur,” ungkapnya.
Menurut Shadiqur, pendekatan tersebut sekaligus mengubah hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Petani tidak ditempatkan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi menjadi mitra dalam proses penerapan dan pengembangan teknologi.
“Keberhasilan kami bukan ketika alat selesai dipasang, tetapi ketika petani mampu menggunakannya. Karena itu, teknologi harus dibuat sesuai kondisi mereka, dipahami cara kerjanya, dan pada akhirnya dapat dikelola secara mandiri oleh kelompok tani,” tambahnya.
Pendekatan tersebut menempatkan mitra secara aktif sejak perencanaan, pembangunan greenhouse, pengoperasian sistem IoT, praktik budidaya hingga evaluasi. Pola partisipatif ini ditujukan agar muncul rasa memiliki terhadap teknologi sekaligus meningkatkan peluang keberlanjutannya setelah pendampingan perguruan tinggi berakhir.
Mengubah Data Menjadi Keputusan Petani
Salah satu perubahan penting yang diperkenalkan perguruan tinggi melalui program ini adalah penggunaan data sebagai dasar pengelolaan tanaman.
Selama ini keputusan budidaya petani sering kali bertumpu pada pengalaman.
Pengalaman tetap menjadi modal penting, namun keberadaan sensor memberikan tambahan informasi mengenai kondisi aktual lingkungan tanaman. Dengan demikian, petani dapat mengombinasikan pengalaman budidaya dengan informasi yang lebih terukur.
Rizky Dwi Putri, Ph.D., anggota tim dari Universitas Negeri Malang, mengatakan transfer teknologi perlu dibarengi dengan transfer kemampuan.
“Kami tidak ingin petani hanya mengetahui bahwa di dalam greenhouse ada sensor. Mereka perlu memahami apa arti data yang muncul dan apa yang harus dilakukan setelah membaca data tersebut. Di sinilah peran perguruan tinggi, yaitu menyederhanakan teknologi agar dapat diterapkan dalam aktivitas petani sehari-hari, ungkap Rizky,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan program, Rizky turut mendampingi implementasi operasional greenhouse, penggunaan sistem IoT, pengumpulan dan pengolahan data lapangan, serta proses alih pengetahuan kepada kelompok tani. Peran tersebut dirancang untuk mempercepat proses adopsi teknologi oleh mitra.
Petani juga mendapatkan pendampingan mengenai hubungan antara kondisi lingkungan dengan pertumbuhan tanaman. Melalui proses tersebut, data sensor diharapkan tidak sekadar menjadi angka pada layar, tetapi dapat digunakan dalam pengambilan keputusan budidaya secara nyata.
Kelompok Tani Menjadi Laboratorium Inovasi di Desa
Bagi Kelompok Tani Daun Mas 1, hadirnya perguruan tinggi memberikan kesempatan bagi petani untuk mencoba teknologi yang sebelumnya relatif sulit mereka akses secara mandiri.
“Kami biasanya bertani berdasarkan pengalaman yang sudah dilakukan bertahun-tahun. Sekarang kami mulai dikenalkan bagaimana kondisi tanaman juga bisa dilihat melalui data. Ini menjadi pengetahuan baru bagi kelompok kami dan kami berharap nantinya bisa menjalankan sistem ini sendiri, ujar perwakilan Kelompok Tani Daun Mas 1.”
“Kalau hanya diberikan alat mungkin kami akan kesulitan. Tetapi karena dijelaskan, dicoba bersama dan didampingi, kami jadi lebih memahami manfaatnya. Harapan kami greenhouse ini nantinya benar-benar bisa meningkatkan hasil dan menjadi tempat belajar bagi petani lainnya,” lanjutnya.
Greenhouse tersebut dirancang tidak hanya sebagai sarana produksi. Setelah program selesai, fasilitas tersebut ditargetkan menjadi model percontohan yang dapat dimanfaatkan kelompok tani dan berpotensi direplikasi oleh petani lain di sekitarnya.
Membuka Ruang bagi Generasi Muda
Transfer teknologi perguruan tinggi juga menyasar generasi muda. Fatahillah, pemuda tani yang terlibat langsung dalam kegiatan, ikut mempelajari teknologi dan perangkat yang digunakan pada greenhouse.
Keterlibatan pemuda dinilai strategis karena keberlanjutan pertanian berbasis digital sangat bergantung pada hadirnya generasi yang mampu menjembatani pengetahuan budidaya dengan perkembangan teknologi.
“Saya jadi melihat bahwa pertanian sekarang bisa digabungkan dengan teknologi. Ada sensor, sistem kontrol, dan data yang bisa kita pelajari. Menurut saya ini membuat pertanian lebih menarik bagi anak muda karena kita tidak hanya bekerja secara manual, tetapi juga belajar menggunakan teknologi, kata Fatahillah.”
“Kalau kami sudah bisa mengoperasikan dan memahami sistemnya, nantinya teknologi seperti ini bisa terus dikembangkan. Anak muda juga bisa mengambil peran untuk membantu petani lain mengenal teknologi pertanian, tambahnya.”
Riset Perguruan Tinggi Menjadi Dampak Nyata
Implementasi greenhouse juga memiliki pijakan pada riset yang sebelumnya dilakukan tim pengusul. Hasil penelitian terkait petani melon menunjukkan bahwa adopsi greenhouse dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Penelitian lainnya juga menunjukkan potensi greenhouse dalam mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimia.
Temuan tersebut kemudian dibawa ke tingkat implementasi melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Dengan demikian, program ini menunjukkan rantai yang lebih lengkap dari riset, penerapan teknologi, pendampingan, hingga pemanfaatan oleh masyarakat.
Dalam rancangan program, penerapan greenhouse berbasis IoT ditargetkan dapat mendorong peningkatan produktivitas sekitar 20–30 persen dibandingkan sebelum program, sementara pendampingan budidaya presisi diarahkan untuk mengurangi kehilangan hasil panen sekitar 15–20 persen. Target tersebut merupakan indikator program yang selanjutnya perlu dievaluasi berdasarkan hasil pelaksanaan dan produksi di lapangan.
Program juga diarahkan agar sebagian besar anggota kelompok mampu melakukan pencatatan usaha tani secara rutin dan menggunakan data sebagai bahan menyusun rencana tanam. Dengan demikian, transformasi yang didorong perguruan tinggi tidak hanya terjadi pada teknologi produksi, tetapi juga pada cara petani mengelola usahanya.
Bagi tim pelaksana, keberhasilan program pada akhirnya tidak hanya diukur dari berdirinya greenhouse atau terpasangnya perangkat IoT, melainkan dari kemampuan petani menguasai teknologi dan menjadikannya bagian dari sistem usaha tani mereka.
Kolaborasi Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, dan Kelompok Tani Daun Mas 1 tersebut menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat menjalankan perannya sebagai penghubung antara hasil riset dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dari kampus menuju greenhouse di Desa Kedung Rejoso, teknologi IoT kini mulai diterjemahkan menjadi keputusan budidaya. Jika proses transfer pengetahuan tersebut berlanjut, inovasi perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan teknologi, tetapi juga dapat membantu melahirkan petani yang semakin adaptif, berbasis data, dan siap memasuki era smart farming.



