YAKUSA.ID – Kunyit selama ini dikenal sebagai salah satu rempah yang kaya manfaat bagi kesehatan. Ahli diet terdaftar Meghan Pendleton, M.S., RD menyebutkan bahwa manfaat tersebut berasal dari kandungan kurkuminoid, senyawa aktif dalam kunyit yang telah banyak diteliti karena efek positifnya terhadap tubuh.
Dalam siaran Eating Well pada Sabtu 10 Januari 2026, Pendleton menjelaskan bahwa di antara kelompok kurkuminoid, kurkumin merupakan senyawa yang paling sering dipromosikan dalam bentuk suplemen kesehatan.
Salah satu khasiat kunyit yang paling menonjol adalah kemampuannya dalam membantu mengatasi peradangan.
“Senyawa aktifnya, kurkumin, adalah kekuatan pendorong di balik efek anti-inflamasinya,” kata ahli diet terdaftar Emily Niswanger, M.S., RDN sebagaimana dilansir Antaranews, Rabu (14/1/2026).
Niswanger menjelaskan bahwa suplemen kurkumin terbukti dapat menekan jalur biologis yang memicu respons inflamasi dalam tubuh.
Selain itu, kurkumin juga berfungsi sebagai antioksidan yang membantu menangkal radikal bebas penyebab kerusakan sel dan jaringan sehat.
Kombinasi sifat antioksidan dan anti-inflamasi tersebut membuat kurkumin berpotensi membantu meredakan nyeri sendi.
Ahli diet terdaftar Erin Kenney, M.S., RDN menjelaskan bahwa kurkumin bekerja dengan menghambat jalur peradangan yang sering muncul pada kondisi seperti arthritis.
Menurut dia, hasil penelitian menunjukkan bahwa kunyit dapat seefektif beberapa obat antiinflamasi nonsteroid dalam mengurangi gejala osteoartritis, tanpa menimbulkan efek samping seperti gangguan pencernaan, sembelit, kantuk, maupun pusing.
Manfaat kunyit juga berkaitan dengan kesehatan jantung.
“Kurkumin membantu mengurangi peradangan sistemik, stres oksidatif, dan oksidasi kolesterol LDL, yang semuanya berkontribusi pada penyakit jantung,” kata Kenney.
Ia menambahkan bahwa kurkumin berperan dalam meningkatkan fungsi endotel, sehingga membantu menjaga kesehatan pembuluh darah dan melancarkan sirkulasi.
Beberapa studi menunjukkan bahwa konsumsi suplemen kunyit selama lebih dari 12 minggu dapat membantu menurunkan tekanan darah sistolik.
Namun, menurut Niswanger, tidak ditemukan pengaruh yang signifikan terhadap tekanan darah diastolik.
Selain itu, kunyit juga dinilai bermanfaat bagi saluran pencernaan.
“Karena sifat anti-inflamasi dan antioksidannya, kurkumin dapat membantu mengurangi peradangan di usus, berpotensi bermanfaat untuk kondisi seperti sindrom iritasi usus besar dan penyakit radang usus,” kata Kenney.
Ia menjelaskan bahwa kurkumin dapat mendukung keseimbangan mikrobioma usus dengan meningkatkan pertumbuhan bakteri baik dan menekan bakteri jahat.
Kurkumin juga membantu produksi empedu yang penting untuk pencernaan lemak dan kesehatan pencernaan secara menyeluruh.
Pendleton turut menyoroti potensi kurkumin dalam melindungi kesehatan otak, khususnya dari peradangan dan kerusakan oksidatif yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif dan penyakit neurodegeneratif.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penelitian jangka panjang pada manusia masih diperlukan untuk memastikan dampaknya terhadap kondisi neurologis kronis.
Para ahli merekomendasikan konsumsi kunyit bersama makanan yang mengandung lemak sehat agar penyerapannya lebih optimal.
“Kunyit jauh lebih aman dan lebih enak dimakan sebagai rempah utuh dibandingkan dalam bentuk suplemen yang sangat terkonsentrasi,” kata Pendleton.
Meski kurkumin umumnya aman dikonsumsi hingga dosis 8 gram, konsumsi rutin tetap berpotensi menimbulkan efek samping.
Kenney menyebutkan bahwa sebagian orang dapat mengalami gangguan pencernaan seperti mual, diare, dan kembung.
Pendleton juga mengingatkan bahwa konsumsi suplemen kunyit secara rutin dapat mengganggu penyerapan zat besi.
Kenney menyarankan agar individu dengan masalah kantung empedu, gangguan pendarahan, batu ginjal, atau kondisi sensitif hormon lebih berhati-hati.
Sementara itu, ibu hamil dan menyusui dianjurkan menghindari suplemen kunyit dosis tinggi karena keamanannya belum diteliti secara memadai.
Selain itu, orang yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah, antidiabetes, antasida, imunosupresan, maupun terapi hormon disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan untuk menghindari potensi interaksi obat yang merugikan.
Seperti halnya penggunaan suplemen lain, konsultasi dengan penyedia layanan kesehatan tetap menjadi langkah penting sebelum mengonsumsi kunyit secara rutin.


