YAKUSA.ID – Terapi nutrisi berbasis genetika atau food genomics dinilai berpotensi mendukung perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam jangka panjang. Pendekatan ini memungkinkan penyusunan pola makan yang lebih personal sesuai dengan kode genetik masing-masing individu.
Dokter spesialis gizi klinik, dr Davie, menyebut food genomics dapat menjadi alat pendukung penting dalam menentukan rekomendasi nutrisi yang lebih tepat sasaran.
“Food genomics bisa jadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang sifatnya lebih personal, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” kata dr Davie dalam keterangan resminya, dikutip dari Antara, Minggu (11/1/2026).
Food genomics merupakan terapi nutrisi yang memanfaatkan informasi genetika seseorang untuk menyesuaikan asupan makanan. Perbedaan genetik membuat respons tubuh terhadap makanan—mulai dari proses metabolisme hingga potensi intoleransi—berbeda pada setiap individu.
“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik memengaruhi cara tubuh dalam merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” jelasnya.
Tes food genomics dilakukan melalui sampel darah atau air liur dengan waktu analisis sekitar satu hingga dua minggu. Hasil pemeriksaan tersebut kemudian diinterpretasikan oleh dokter gizi klinik untuk merumuskan rekomendasi nutrisi personal, termasuk pengaturan makronutrien, kebutuhan vitamin tertentu seperti vitamin D, asupan lemak esensial omega-3, hingga jenis olahraga yang sesuai.
Secara teoritis, hasil nutrigenomik tidak berubah karena faktor genetik bersifat permanen. Namun dalam praktiknya, rekomendasi tetap perlu mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan, seperti gaya hidup, tingkat stres, serta aktivitas fisik.
“Karena itulah diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif pada orang lain,” tegas dr Davie.
Selain membantu menyusun pola makan yang lebih tepat, panel nutrigenomik juga dapat mengidentifikasi potensi alergi atau intoleransi makanan, sehingga individu dapat menghindari asupan yang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.
Meski demikian, dr Davie menekankan bahwa food genomics bukan pengganti prinsip dasar hidup sehat. Ia mengingatkan masyarakat tetap dapat memulai dari langkah sederhana, seperti menjaga pola makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta memastikan komposisi gizi yang lengkap dan seimbang.


