Masdawi Dahlan bukan sekadar nama, melainkan lambang pijar Sang Surya yang menyinari Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pamekasan.
Dia adalah jantung yang menghidupkan setiap inisiatif, dari rak-rak pustaka hingga jaringan digital yang kini merangkul generasi muda. Tanpa kehadirannya, majelis ini hanyalah kerangka kosong, kehilangan arah dan semangat.
Kepemimpinannya bukanlah perintah kaku, melainkan teladan yang mengalir deras. Setiap geraknya nyata, mengalirkan gerakan literasi dan pelatihan digital,—lahir dari tangannya yang membimbing. Ia menggerakkan anggota bukan hanya dengan kata-kata, namun dengan contoh hidup yang tak tergoyahkan, menjadikan MPID sebagai mercusuar pengetahuan di tengah badai informasi yang semu.
Kini, kepergiannya ke Rahmatullah meninggalkan sesak yang sukar diucap. Dada terasa sesak, mata basah, bukan karena kehilangan pribadi semata, tapi karena Muhammadiyah kehilangan pilar utama. Namun, di balik duka itu, karya-karyanya tetap menyala, seperti sinar surya yang tak pernah pudar meski malam tiba.
Sebagai kader yang dibina langsung oleh Masdawi Dahlan, saya merasakan pukulan mendalam. Dia bukan guru biasa; ia penanam benih iman, Islam, dan amal saleh di hati kami. Setiap pelajaran yang ia berikan, dari etika hingga pengabdian di Muhammadiyah, kini menjadi warisan yang harus kami lestarikan.
Akhir hayat memang ketentuan Allah yang tak terbantahkan. Tak ada daya manusia untuk menolaknya, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an. Namun, kepergian ini justru ujian bagi kami: apakah pijar Sang Surya akan redup atau justru berkobar lebih terang di tangan penerusnya?
Muhammadiyah kini kehilangan bukan hanya seorang pemimpin, tapi pijar Sang Surya itu sendiri. Istilah itu lahir dari dedikasinya yang tak kenal lelah, mengabdikan ilmunya bukan untuk popularitas, melainkan untuk kemaslahatan umat. Ia mengubah pengetahuan dari teori menjadi aksi nyata di persyarikatan.
Masdawi Dahlan adalah katalisator transformasi, menjadikan MPID sebagai benteng melawan kebodohan di era informasi berlimpah. Kehilangannya adalah kabut tebal yang menyelimuti visi Muhammadiyah.
Pengabdian Masdawi Dahlan mengajarkan satu pelajaran abadi: ilmu sejati adalah yang diamalkan. Ia tak hanya menulis, tapi membangun; tak hanya bicara, tapi bergerak. Inilah model kepemimpinan Muhammadiyah modern yang patut ditiru di setiap majelis.
Akhirnya, semoga Allah SWT menerima amal saleh Masdawi Dahlan dan menempatkannya di surga-Nya. Bagi kami yang ditinggalkan, tugas kita jelas, menyalakan kembali pijar Sang Surya, demi persyarikatan yang lebih maju dan berilmu.






