YAKUSA.ID — Ning Nadia Abdurrahman membagikan kesan pertamanya saat mengisi tausiyah dalam acara halal bihalal PDI Perjuangan Jawa Timur di Hotel Shangri-La, Minggu (12/4/2026).

Ia mengaku sempat diliputi rasa gugup karena baru pertama kali hadir dalam forum partai politik.

Namun, perasaan itu tak berlangsung lama. Setelah bertemu langsung dengan para kader PDI Perjuangan. Ia justru merasakan suasana yang hangat dan akrab.

“Pertama kali nyemplung, istilahnya bertatap muka dengan orang-orang di balik kesuksesan PDI Perjuangan. Masyaallah, ternyata seasik itu, tidak semenyeramkan yang dibayangkan,” ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Qolam Wa Lauh, Kwagean, Kediri tersebut menilai halal bihalal bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi memiliki makna yang lebih dalam sebagai ruang mempererat hubungan antarmanusia. Ia juga mengapresiasi konsistensi PDI Perjuangan dalam menjaga tradisi khas Nusantara.

Menurutnya, dalam ajaran Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang sangat penting, terutama dalam menyelesaikan persoalan sosial.

“Halal bihalal ini menjadi ruang untuk saling menghalalkan, menggugurkan dosa-dosa sosial. Karena kesalahan antarmanusia tidak cukup diselesaikan hanya dengan taubat kepada Allah, tapi juga harus dengan kerelaan sesama,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ning Nadia mengajak para kader untuk tidak berhenti pada silaturahmi formal saja. Ia mendorong agar hubungan yang sempat renggang bisa kembali diperbaiki, bahkan ditingkatkan kualitasnya.

Ia pun menawarkan tiga nilai utama sebagai bekal, yakni takhali (mengosongkan hati dari dendam), tahali (menghias diri dengan sikap memaafkan), dan tajali (mewujudkan hubungan yang lebih baik ke depan).

“Semoga kita keluar dari majelis ini dengan tiga oleh-oleh itu,” ucapnya.

Di akhir penyampaiannya, ia menegaskan bahwa silaturahmi sejatinya bukan hanya tentang pertemuan, melainkan tentang memperbaiki hubungan dan membuka lembaran baru antarsesama.

Said Abdullah: NU dan PDIP Tak Terpisahkan

Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, dalam sambutannya menegaskan kuatnya hubungan antara kalangan nasionalis dan santri di Jawa Timur yang telah terjalin sejak lama.

Ia menyebut, Jawa Timur merupakan representasi nyata perpaduan “ijo” dan “abang” yang kini semakin menyatu dalam kehidupan sosial maupun politik.

“Jawa Timur itu basisnya ijo dan abang, santri dan abangan… yang hari ini semakin cair dan melebur,” ujarnya.

Said juga memastikan bahwa kedekatan antara PDI Perjuangan dan Nahdlatul Ulama bukan sekadar hubungan politik sesaat, melainkan telah menjadi bagian dari kekuatan sosial yang saling melengkapi.

“PDI Perjuangan, apalagi di Jawa Timur, tidak akan meninggalkan NU,” tegasnya.

Menurutnya, sinergi tersebut penting untuk terus dijaga, terutama dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat, mulai dari kemiskinan hingga tantangan pendidikan dan lapangan kerja.

Ia pun mengajak seluruh elemen untuk terus merawat kebersamaan dan memperkuat kolaborasi.

“Oleh karena itu, mari kita selalu bersama bergandengan tangan NU dan PDIP,” tuturnya.

Selain itu, Said turut mengingatkan pentingnya kewaspadaan di tengah derasnya arus informasi di era post-truth. Ia menilai, masyarakat perlu lebih bijak dalam memilah kebenaran.

“Kita memasuki era post truth… sulit membedakan benar dan salah,” ungkapnya.

Sebagai penutup, ia mengajak seluruh pihak untuk menjaga kejujuran serta memperkuat silaturahmi dalam kehidupan bermasyarakat.

“Sering-sering bertabayun, menjaga silaturahmi, dan membuka hati,” pesannya.