YAKUSA.IDPolda Metro Jaya mengeluarkan laporan resmi terkait pengamanan unjuk rasa Jumat (12/6/2026) di Bundaran HI dan Dukuh Atas. Kepolisian menyebut jalannya aksi tergolong aman, tertib, serta terkendali tanpa hambatan berarti.

Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri menurunkan 4.151 personel gabungan Polri dan TNI. Pasukan ditempatkan di lokasi rawan seperti Gedung DPR, Jalan MH Thamrin, Patung Kuda, serta sekitar Bundaran HI. Setiap anggota mendapat perintah tegas untuk bersikap persuasif dan mengutamakan pendekatan humanis. Kapolda juga melarang anak buahnya membawa senjata api selama berlangsungnya demo.

Pengamanan kali ini mencatat beberapa prestasi membanggakan. Pertama, nihil korban luka dari pihak demonstran maupun aparat. Kedua, fasilitas umum seperti halte, lampu merah, dan trotoar tetap utuh. Ketiga, lalu lintas dapat kembali normal pada pukul 21.00 WIB seusai massa membubarkan diri.

Prestasi paling menonjol adalah penangkapan dini dua orang di kawasan Bendungan Hilir. Keduanya kedapatan membawa tiga botol molotov lengkap dengan sumbu yang siap pakai. Gerak cepat petugas berdasarkan informasi intelijen sejak pagi membuat kedua pelaku gagal mencapai kerumunan massa.

Seorang pelaku berinisial ANH (24) sudah ditetapkan sebagai tersangka pasca-pemeriksaan intensif. Rekannya berinisial R masih berstatus saksi dan terus didalami keterlibatannya. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto menyampaikan rilis. Beliau menjelaskan bahwa tindakan preventif ini menyelamatkan situasi dari potensi kericuhan besar.

Jaringan Aktivis Nusantara, Romadhon Jasn, menyampaikan bahwa publik mengapresiasi Kapolda beserta seluruh jajarannya. Menurut pandangannya, pendekatan humanis yang diterapkan kali ini berbeda dari penanganan demo pada masa lalu. “Publik menyaksikan sendiri bagaimana polisi bertugas dengan kepala dingin tanpa provokasi. Kapolda dan timnya pantas menerima penghargaan atas perubahan pola pengamanan ini,” tutur Romadhon saat dihubungi Minggu (14/6/2026).

Romadhon menambahkan bahwa warga ibu kota merasa tenang meski aksi berjalan berjam-jam. Tidak ada kekhawatiran berlebih ketika melintas di dekat lokasi demo karena situasi tetap kondusif. Ia juga menyoroti absennya tindakan represif seperti gas air mata ataupun pengejaran massal yang kerap terjadi di momen serupa. Baginya, ini bukti polisi mampu profesional tanpa perlu membuat rakyat takut.

Fakta lain yang jarang terjadi: sepanjang delapan jam aksi berlangsung, tidak satu pun tembakan gas air mata melesat ke arah massa. Tidak ada pula suara tembakan peringatan yang biasa memecah ketenangan saat demo berlangsung. Personel di lapangan hanya membawa tameng dan tongkat sebagai standar prosedur.

Bahkan saat ketegangan sempat meninggi menjelang sore, aparat tetap bertahan dengan negosiasi, bukan represi. Keputusan ini dinilai berani mengingat aksi serupa di masa lalu sering berakhir dengan ricuh. Publik mencatat ini sebagai kemajuan signifikan dalam pola pengamanan unjuk rasa di ibu kota.

Secara keseluruhan, laporan ini menegaskan keberhasilan penanganan aksi 12 Juni 2026. Indikatornya antara lain nihil korban, fasilitas utuh, serta penangkapan dini terhadap pihak anarkis. Masyarakat berharap pola pengamanan semacam ini menjadi standar tetap. Apresiasi dari Romadhon Jasn mengukuhkan catatan positif terhadap kinerja Polda Metro Jaya dan semua personel yang terlibat.