YAKUSA.ID — Bagi Moch. Wijdan, sedekah merupakan kebiasaan yang dibangun melalui proses. Ia mengaku belajar dari sejumlah tokoh yang dikenalnya maupun kisah kedermawanan yang pernah didengarnya.
Hal itu disampaikan Wijdan saat bersilaturahmi dengan Persatuan Jurnalis Sampang, di kediamannya, Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang, Sabtu (26/9/2026). Dalam pertemuan tersebut, ia menceritakan kebiasaannya bersedekah kepada anak yatim, lansia, dan masyarakat yang membutuhkan.
Wijdan menyebut kebiasaan tersebut sebagai bagian dari konsep “berbisnis dengan Allah.”
Dari Keteladanan Menjadi Kebiasaan
Konsep itu, menurut Wijdan, ia pelajari dari H. Moh. Sahid atau yang dikenal sebagai Aba Sahid maupun Ji Sahid. Tokoh masyarakat asal Ketapang Barat, Kecamatan Ketapang, Sampang, tersebut menjadi salah satu sosok yang menginspirasinya dalam memahami sedekah.
Selain Ji Sahid, Wijdan juga menyebut sosok Kiai Abd Qadir AMZ, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Bira Timur, Kecamatan Sokobanah, Sampang.
Wijdan mengaku pernah mendengar kisah tentang kedermawanan Kiai Abd Qadir. Salah satu cerita yang ia dengar adalah kebiasaan sang kiai bersedekah atas nama anak-anaknya. Sedekah tersebut disebut dilakukan setiap hari.
Kisah itu turut membentuk pandangan Wijdan mengenai pentingnya membiasakan diri untuk berbagi. Menurutnya, sedekah tidak cukup hanya dilakukan sesekali, tetapi perlu dibangun menjadi kebiasaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, Wijdan mengaku sering bersedekah kepada anak yatim dan lansia, serta membantu masyarakat yang membutuhkan. Ia menyebut kegiatan tersebut telah menjadi tradisi.
Namun, kebiasaan itu tidak langsung terasa mudah.
“Awalnya terasa berat, tapi setelah lama-kelamaan akan merasa terbiasa,” ujar Wijdan.
Menurut Wijdan, proses tersebut merupakan bagian dari pembiasaan. Sesuatu yang pada awalnya terasa berat dapat menjadi lebih ringan ketika dilakukan secara terus-menerus.
Dalam menjelaskan kebiasaannya itu, Wijdan menggunakan istilah “berbisnis dengan Allah.” Ia memandang sedekah sebagai bentuk pemberian yang dilakukan dengan keyakinan bahwa balasannya berasal dari Allah.
Istilah tersebut menjadi bagian dari cara Wijdan memaknai aktivitas berbagi yang selama ini ia lakukan.
Ketika berbicara tentang latar belakang dirinya, Wijdan juga memilih tidak menempatkan pendidikan maupun ketokohan sebagai hal yang utama.
“Kalau bicara soal latar pendidikan dan ketokohan, siapa saya?” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika ia menceritakan sosok-sosok yang menjadi sumber inspirasinya dalam belajar tentang sedekah.
Saat ini, Wijdan merupakan Kepala Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang. Selain menjalankan tugas sebagai kepala desa, ia juga dipercaya sebagai Ketua Koordinator Wilayah Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Madura Raya.
Di tengah aktivitas tersebut, kebiasaan bersedekah tetap ia jalankan. Anak yatim, lansia dan masyarakat yang membutuhkan menjadi bagian dari mereka yang ia bantu.
Bagi Wijdan, kebiasaan itu berawal dari belajar dan mendengar cerita tentang orang-orang yang dikenal dermawan.
Ji Sahid menjadi salah satu tokoh yang ia sebut sebagai tempat belajar mengenai konsep bersedekah. Sementara kisah tentang Kiai Abd Qadir AMZ memberinya gambaran mengenai sedekah yang dilakukan secara rutin, bahkan atas nama anak-anak.
Dari berbagai cerita tersebut, Wijdan kemudian mencoba membiasakan diri bersedekah dalam kehidupan sehari-hari.
Awalnya terasa berat. Namun setelah dilakukan berulang kali, sedekah menjadi kebiasaan.
Dari kebiasaan itulah muncul konsep yang ia sebut sebagai “berbisnis dengan Allah”—memberi kepada sesama dengan keyakinan bahwa setiap pemberian memiliki balasan dari Allah.








