YAKUSA.ID – Perjalanan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi yang dijalani Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan, Taufadi, menghadirkan kisah tentang pengabdian kepada orang tua di tengah perjalanan spiritual menuju Tanah Suci.

Dalam perjalanan tersebut, Taufadi bersama istrinya mendampingi ibu kandung dan ibu mertua yang sama-sama berstatus jamaah lansia. Perjalanan dari Pamekasan menuju Arab Saudi bukan sekadar ibadah keluarga, tetapi juga menjadi bentuk bakti anak kepada orang tua di usia senja.

Keberangkatan jamaah haji asal Madura masih diwarnai tradisi pelepasan yang sederhana namun penuh makna. Sejak dini hari, keluarga besar, kerabat, hingga tetangga datang mengantar jamaah sambil memanjatkan doa bersama.

Bagi masyarakat Madura, perjalanan haji tidak hanya menjadi urusan pribadi, melainkan kebanggaan keluarga dan lingkungan sekitar. Suasana kekeluargaan terlihat ketika warga berdatangan untuk bersalaman, menitipkan doa, hingga membantu kebutuhan jamaah sebelum berangkat menuju asrama haji.

“Perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi perjalanan batin seluruh keluarga,” ujar Taufadi.

Tradisi Pelepasan Jamaah dan Pengabdian kepada Orang Tua

Menurutnya, tradisi pelepasan jamaah masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Madura. Semangat gotong royong tampak ketika keluarga membantu menyiapkan kebutuhan jamaah, terutama bagi lansia yang memerlukan perhatian lebih selama perjalanan.

Dalam proses menuju asrama haji hingga keberangkatan ke Arab Saudi, kondisi kesehatan orang tua menjadi perhatian utama keluarga. Mulai dari kesiapan fisik, obat-obatan pribadi, hingga kemampuan menghadapi perjalanan panjang harus dipastikan sejak awal.

Pendampingan terhadap jamaah lansia menjadi bagian penting selama perjalanan ibadah. Keluarga harus memastikan orang tua tetap nyaman dan mampu menjalani seluruh tahapan ibadah dengan baik di tengah padatnya aktivitas jamaah.

Evaluasi Pelayanan Jamaah Lansia di Tanah Suci

Selama menjalani rangkaian ibadah haji, Taufadi menilai pelayanan jamaah tahun ini mengalami sejumlah perbaikan dibanding musim sebelumnya. Pengaturan keberangkatan kloter dan koordinasi layanan dinilai lebih tertata.

Meski demikian, menurutnya jamaah lansia masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait mobilitas dan pendampingan selama pelaksanaan ibadah.

“Secara umum pelayanan lebih tertib, tetapi kebutuhan jamaah lansia masih memerlukan perhatian lebih detail,” katanya.

Menurut dia, antrean panjang, perpindahan lokasi, serta kepadatan jamaah menjadi tantangan tersendiri bagi jamaah lanjut usia. Dalam sejumlah kondisi, keluarga harus mengambil peran lebih besar untuk memastikan orang tua tetap nyaman dan aman selama menjalankan ibadah.

Ia juga melihat solidaritas antarjamaah Indonesia cukup terasa selama perjalanan. Banyak jamaah saling membantu membawakan barang, mendampingi lansia, hingga membantu penggunaan kursi roda di tengah padatnya area ibadah.

Perhatian terbesar Taufadi tertuju pada pendampingan jamaah lansia saat pelaksanaan umrah wajib di Masjidil Haram. Ia menilai pelayanan bagi jamaah lanjut usia masih perlu ditingkatkan agar benar-benar sesuai dengan semangat ramah lansia dan disabilitas.

“Kami melihat masih ada jamaah lansia yang harus berjuang sendiri dalam mobilitas ibadah,” ujarnya.

Menurutnya, keterbatasan jumlah petugas layanan menjadi salah satu faktor yang membuat pendampingan belum berjalan optimal. Karena itu, keluarga jamaah kerap harus aktif membantu orang tua selama menjalankan rangkaian ibadah.

Meski menyampaikan kritik, Taufadi menegaskan evaluasi tersebut merupakan bentuk kepedulian agar pelayanan jamaah haji Indonesia terus membaik, khususnya bagi jamaah lansia dan berkebutuhan khusus.