YAKUSA.ID – Bagi mayoritas mahasiswa, menyelesaikan kuliah identik dengan skripsi. Namun, jalan yang ditempuh Moh. Rofik berbeda.
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Madura asal Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, itu menuntaskan pendidikan akhirnya melalui sebuah artikel ilmiah yang mengangkat kehidupan masyarakat di kampungnya sendiri.
Bersama Imam Sadili, Rofik menulis artikel berjudul “Kontribusi Kiai Kampung dalam Penguatan Religiusitas Remaja di Desa Blumbungan.” Artikel tersebut menjadi bagian dari proses penyelesaian pendidikan akhirnya tanpa melalui skripsi.
Pilihan topik itu bukan datang dari ruang yang jauh dari kehidupannya. Rofik justru mengambil sesuatu yang akrab dengan keseharian masyarakat tempat ia tumbuh, yaitu keberadaan kiai kampung dan hubungan mereka dengan generasi muda.
Di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman, kiai kampung masih memiliki ruang penting dalam kehidupan masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi tempat warga belajar agama, tetapi juga hadir dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Pengajian, aktivitas masjid, tajhizul mayit, hingga kegiatan keagamaan lainnya menjadi ruang perjumpaan antara kiai dan para remaja.
Dari aktivitas yang terlihat sederhana itulah Rofik melihat ada sesuatu yang layak dipelajari lebih jauh.
Ia ingin memahami bagaimana kehadiran kiai kampung ikut berkontribusi dalam membangun dan memperkuat religiusitas remaja.
Bagi Rofik, penelitian tersebut bukan sekadar cara untuk memenuhi tuntutan akademik. Ada kedekatan personal dengan objek yang diteliti karena semua itu berlangsung di lingkungan yang sejak kecil ia kenal.
“Bagi saya, karya ini bukan sekadar bagian dari proses menyelesaikan pendidikan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar lebih dekat dengan masyarakat, khususnya tentang bagaimana kiai kampung memiliki peran penting dalam membentuk religiusitas generasi muda,” kata Rofik, Selasa (1/9/2026).
Rofik tumbuh dalam keluarga sederhana. Kehidupan tersebut justru membuatnya terbiasa melihat berbagai hal dari lingkungan sekitar sebagai bagian dari proses belajar.
Ia percaya, ilmu tidak selalu harus ditemukan dari sesuatu yang besar atau jauh. Kehidupan sehari-hari di desa pun dapat melahirkan pertanyaan yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah penelitian.
“Saya berasal dari desa dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Karena itu, saya percaya bahwa apa yang kita temukan di lingkungan sekitar juga bisa menjadi sumber ilmu dan gagasan,” ungkapnya.
Menurut Rofik, banyak persoalan di desa yang sering dianggap biasa karena sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Padahal, jika diamati lebih dekat, hal-hal tersebut dapat menjadi bahan untuk memahami perubahan sosial yang terjadi.
“Semoga tulisan sederhana ini dapat memberikan manfaat, khususnya dalam melihat pentingnya peran tokoh agama dalam mendampingi generasi muda di tengah perubahan zaman,” tambahnya.
Perjalanan Rofik sebagai mahasiswa juga tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Ia aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi yang memberinya ruang untuk belajar berdiskusi, menyampaikan gagasan, bekerja bersama, serta memahami berbagai persoalan sosial.
Pengalaman tersebut ikut membentuk cara Rofik melihat lingkungan di sekitarnya. Ia belajar bahwa persoalan masyarakat tidak hanya bisa dibicarakan, tetapi juga dapat dipahami melalui proses pengamatan dan kajian.
Aktivitasnya berlanjut di Gen Z Pamekasan. Di organisasi tersebut, Rofik dipercaya sebagai Kepala Bidang Komunikasi dan Aspirasi Masyarakat.
Peran itu memberinya pengalaman untuk mendengar berbagai aspirasi sekaligus mengasah kemampuan komunikasi yang sejalan dengan bidang studinya.
Bagi Rofik, pendidikan dan organisasi menjadi dua ruang yang saling melengkapi. Dari kampus ia mendapatkan pengetahuan akademik, sedangkan dari organisasi dan lingkungan masyarakat ia belajar melihat persoalan secara langsung.
“Saya juga bersyukur atas proses pendidikan dan pengalaman berorganisasi yang telah saya jalani. Semoga ke depan saya bisa terus belajar, berkontribusi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Kini, sebuah artikel ilmiah tentang kiai kampung menjadi bagian dari perjalanan Rofik menyelesaikan pendidikan tingginya.
Ada sesuatu yang menarik dari pilihan tersebut. Ia tidak perlu pergi jauh untuk mencari bahan penelitian. Justru lingkungan tempat ia tumbuh memberinya ruang untuk bertanya dan menemukan jawaban.
Dari sebuah desa di Kecamatan Larangan, Rofik membawa kehidupan masyarakat ke ruang akademik. Apa yang selama ini dilihat sebagai keseharian, ia coba pahami dengan pendekatan ilmiah.
Pada akhirnya, perjalanan itu bukan hanya tentang bagaimana seorang mahasiswa menyelesaikan kuliah tanpa skripsi. Lebih dari itu, ada proses ketika pengalaman hidup, lingkungan sosial, dan pengetahuan akademik bertemu dalam sebuah karya.
Bagi Rofik, kampung halaman bukan sekadar tempat ia berasal. Di sanalah ia menemukan gagasan yang kemudian membantunya menuntaskan pendidikan sekaligus belajar memahami masyarakat dengan cara yang berbeda.



