YAKUSA.ID – Program Studi (Prodi) Pengobat Tradisional (Battra) Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) di Dusun Dadapan, Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur.
Pengmas yang dikemas dalam bentuk lokakarya itu menjelaskan dan memberikan pelatihan bagaimana memanfaatkan limbah kulit jeruk dan ampas kopi menjadi sabun yang dinamai Sabun Jeruk dan Bubuk Kopi (SABUKO) kepada ibu-ibu PKK setempat.
Pemateri sekaligus Ketua Tim Pengmas Myrna Adianti menuturkan, Desa Pandanrejo merupakan penghasil komoditi jeruk yang pada panen terakhir banyak tidak terserap pasar hingga menjadi limbah.
“Penyebabnya banyak jeruk yang tidak masuk standar penjualan atau jumlah produksi yang berlebih. Sehingga muncul kebutuhan untuk memberikan alternatif pemanfaatan agar jeruk tidak hanya berakhir sebagai limbah,” tutur myrna, Rabu (19/8/2026).
Tidak hanya jeruk, Tim Pengmas juga melihat potensi ampas kopi yang semakin banyak seiring berkembangnya budaya minum kopi dan pertumbuhan kafe di Kota Batu.
“Ampas kopi yang selama ini dibuang diperkenalkan kepada masyarakat sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis,” sambungnya.

Dalam kegiatan tersebut, Myrna Adianti memberikan materi mengenai minyak atsiri dari kulit jeruk. Sementara workshop pembuatan sabun dipandu Iif Hanifa Nurrosyidah.
Para peserta, khususnya ibu-ibu PKK, tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan sabun.
“Jadi bukan hanya kulit jeruk yang kami manfaatkan. Ampas kopi juga bisa diolah kembali menjadi produk yang bernilai. Kami ingin ibu-ibu PKK melihat bahwa bahan yang selama ini dianggap limbah sebenarnya masih memiliki potensi untuk dikembangkan,” ujar Myrna.
Menurut dia, pemanfaatan limbah tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif kelompok PKK.
Dengan keterampilan pengolahan dan pengemasan yang tepat, produk sabun berbahan lokal itu berpeluang menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Program SABUKO sekaligus menjadi upaya membangun ekonomi sirkular berbasis potensi lokal dengan mengubah surplus hasil pertanian dan limbah konsumsi menjadi produk bernilai tambah.
Inisiatif tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama Tujuan 1 tentang Tanpa Kemiskinan dan Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui pemberdayaan masyarakat dan penciptaan peluang ekonomi baru di tingkat dusun.
Untuk diketahui, kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari yakni Selasa dan Rabu (11 – 12/8/2026), mendapat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dengan nomor kontrak no kontrak: 141/C3/DT.05.00/PM/2026.



