YAKUSA.ID – Pagi di Mapolres Sampang itu dimulai dengan suasana yang berbeda. Tidak ada hiruk pikuk aktivitas kantor seperti biasanya, melainkan kehangatan yang terasa sejak langkah pertama memasuki halaman, Minggu (28/06/2026).

Sejumlah anak yatim duduk rapi, menerima santunan dengan wajah yang tak mampu menyembunyikan kebahagiaan. Senyum mereka sederhana, namun cukup untuk menggambarkan bahwa kehadiran Polri bukan sekadar simbol, melainkan benar-benar dirasakan.

“Terimakasih pak polisi,” ujar salah satu salah satu anak dengan senyum sumringah.

Bagi sebagian dari mereka, perhatian seperti itu bukan sesuatu yang datang setiap hari. Karena itu, momen tersebut menjadi lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Ada rasa dihargai, ada rasa diperhatikan, dan ada kedekatan yang terbangun secara perlahan. Di titik inilah, hubungan antara aparat dan masyarakat menemukan makna yang lebih dalam.

“Nanti buat dibelikan peralatan sekolah,” tambahnya.

Momen itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Bhayangkara ke-80 di Mapolres Sampang. Tidak ada jarak yang kaku, hanya interaksi hangat yang tumbuh secara alami di tengah kehidupan sosial.

Seiring berjalannya waktu, suasana mulai berubah. Deru mesin perlahan terdengar, menandai dimulainya Bhayangkara Trail Adventure 2026 yang digelar Minggu, 28 Juni 2026. Ratusan hingga ribuan peserta dari berbagai daerah memadati lokasi. Mereka datang dengan semangat yang sama, menjajal adrenalin sekaligus menjadi bagian dari kebersamaan yang lebih luas.

Lintasan yang disiapkan bukan tanpa tantangan. Tanjakan curam, jalur berlumpur, hingga medan ekstrem menjadi bagian dari pengalaman yang harus ditaklukkan.

Keterangan foto: Iptu Nur Fajri (melambaikan tangan) saat berada di salah satu lintasan Trail Adventure

“Namun justru di titik-titik ini kebersamaan terasa semakin kuat. Bahkan kami, para peserta saling membantu ketika menghadapi rintangan, saling menyemangati saat kelelahan, dan saling berbagi pengalaman sepanjang perjalanan,” ujar Joni Arjuna, salah satu rider asal Pamekasan.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga ruang pertemuan yang mempertemukan banyak pihak. Di sana, masyarakat, komunitas, dan anggota Polri berbaur dalam suasana yang setara. Tidak ada sekat, tidak ada batas, semuanya menyatu dalam satu harmoni.

Rangkaian kegiatan tersebut sebenarnya telah dimulai sepekan sebelumnya melalui Bhayangkara Fun Run 5K yang digelar pada 21 Juni 2026. Ribuan peserta ambil bagian, mulai dari masyarakat umum, pelajar, komunitas, hingga unsur TNI dan Polri. Antusiasme yang terlihat menjadi gambaran bahwa kegiatan ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan.

Di sepanjang rute, interaksi sederhana menjadi pemandangan yang bermakna. Sapaan ringan, tawa kecil, hingga kebersamaan di garis finis menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini mampu mencairkan jarak yang selama ini terasa. Dalam suasana santai, hubungan yang sebelumnya kaku perlahan berubah menjadi lebih dekat dan terbuka.

Langkah-langkah para peserta bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga simbol kedekatan yang dibangun secara perlahan. Dari langkah kecil itulah, kepercayaan publik mulai tumbuh, bukan melalui narasi besar, tetapi melalui pengalaman nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sosok di Balik Pendekatan Humanis

Di balik rangkaian kegiatan tersebut, ada peran Kasatreskrim Polres Sampang, Iptu Nur Fajri Alim. Pria kelahiran Pamekasan ini dikenal luas sebagai perwira yang tegas dalam menjalankan tugas, namun tetap mengedepankan pendekatan humanis dalam setiap langkahnya.

Dalam penegakan hukum, ia tidak memberikan ruang bagi pelanggaran. Upaya pengentasan angka kriminalitas di wilayah Sampang terus dilakukan dengan serius dan terukur. Penindakan dilakukan tanpa kompromi terhadap pelaku kejahatan, sebagai bentuk komitmen menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Hukum harus ditegakkan dan itu kewajiban, tapi berbagi kebahagian dan berbaur bersama masyarakat itu juga tugas kita sebagai pengayom dan pelindung bagi mereka,” ucapnya pada Yakusa.id

Dia memahami bahwa di balik ketegasan itu, ada pendekatan lain yang tidak kalah penting. Hukum tidak bisa berdiri sendiri tanpa kepercayaan masyarakat. Karena itu, pendekatan humanis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap kebijakan dan langkah yang diambil.

Di luar tugasnya sebagai aparat penegak hukum, Nur Fajri dikenal memiliki ketertarikan besar pada dunia otomotif dan permesinan. Dunia balap bukan hal asing baginya. Ketertarikan ini kemudian menjadi jembatan untuk membangun komunikasi dengan komunitas, terutama mereka yang memiliki minat yang sama.

Melalui kegiatan seperti trail adventure, ia ingin menghadirkan ruang interaksi yang berbeda. Komunitas yang selama ini bergerak sendiri-sendiri dapat berkumpul dalam satu wadah. Dari sana, tercipta hubungan yang lebih cair, terbuka, dan saling memahami.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa membangun kepercayaan tidak selalu harus dilakukan dalam forum formal. Justru melalui kegiatan yang bersifat santai dan menyenangkan, kedekatan dapat tumbuh dengan lebih alami dan berkelanjutan.

Dari Komunitas hingga Pemberdayaan

Keterlibatan berbagai komunitas menjadi salah satu kekuatan dalam rangkaian kegiatan Bhayangkara di Sampang. Police Enjoy 246 dan Threefive Group turut ambil bagian dalam menyukseskan kegiatan ini. Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa Polri mampu berjalan berdampingan dengan masyarakat dalam berbagai bidang.

Tidak hanya itu, kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi secara langsung. Pelaku UMKM dilibatkan untuk meramaikan acara, mulai dari penyedia makanan hingga berbagai produk lokal lainnya. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian penting dari perputaran ekonomi masyarakat setempat.

Di sisi lain, perhatian juga diberikan pada aspek budaya. Salah satu inisiatif yang muncul adalah keterlibatan dalam mengangkat kembali eksistensi musik tradisional seperti Daul Semut Ireng, yang kini berada dalam naungan Threefive Group. Upaya ini menjadi bentuk kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Musik Daul Semut Ireng 35

Melalui berbagai kegiatan tersebut, terlihat bahwa pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada satu aspek. Ada upaya untuk membangun hubungan sosial, memperkuat ekonomi masyarakat, hingga menjaga identitas budaya lokal agar tetap hidup dan berkembang.

Kata dia, kegiatan seperti ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan Polri yang lebih dekat dengan masyarakat. Kepercayaan tidak bisa dibangun secara instan, tetapi melalui proses yang berkelanjutan dan konsisten.

Sementara itu, Kapolres Sampang juga menekankan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan Polri yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Berbagai kegiatan lain seperti bakti religi dan aksi sosial turut melengkapi rangkaian Hari Bhayangkara ke-80 di Sampang. Semua dirangkai dalam satu konsep yang utuh, menghadirkan Polri sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri.