YAKUSA.ID – Hamparan Padang Arafah dipenuhi jutaan jamaah yang larut dalam doa. Suara talbiyah bersahutan, Selasa (26/05/2026). Musim haji tahun ini diikuti sekitar 1,7 juta jemaah dari berbagai negara, dengan Indonesia menjadi penyumbang jemaah terbanyak.

Di tengah kekhusyukan menjalani wukuf, pasangan politisi PDI Perjuangan asal Kabupaten Pamekasan, Madura, Taufadi dan Ansari, menerima kabar yang membuat hati mereka bergetar haru. Putri pertama mereka, Ihda Nazilla Taufadi, berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an 30 juz.

Kabar itu datang di momen yang begitu istimewa. Tepat saat Taufadi bersama istrinya, Hj Ansari, ibu dan ibu mertuanya, menjalani puncak ibadah haji di Arafah (09 Dzulhijjah 1447 H/26 Mei 2026), putr mereka menyelesaikan perjuangan panjang menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Taufadi bersama Istrinya (Hj Ansari), Ibu dan Ibu Mertuanya saat wukuf di Arafah, Selasa (26/05/2026)

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan itu sedang menunaikan ibadah haji bersama istrinya yang juga anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jatim XI Madura. Keduanya juga turut mendampingi ibu kandung dan ibu mertua selama menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Bagi keluarga tersebut, kabar itu bukan sekadar prestasi akademik atau capaian luar biasa. Hafalan 30 juz menjadi hadiah spiritual yang terasa sangat mendalam, terlebih datang pada hari Arafah yang diyakini sebagai salah satu hari paling mulia dalam Islam.

Kabar membahagiakan itu pun langsung menyelimuti keluarga besar mereka. Sebab, perjuangan Nazilla selama bertahun-tahun akhirnya berbuah manis di momen yang sangat istimewa.

Jalan Sunyi Nazilla Bersama Al-Qur’an

Nazilla selama ini dikenal tekun menjalani kehidupan pesantren di Surabaya. Putri pertama Ketua DPC PDI Perjuangan Pamekasan Taufadi itu menghabiskan masa kecil dan remajanya untuk belajar, murojaah, serta menjaga hafalan Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, ini bukan perjuangan yang mudah. Tapi saya selalu ingat tujuan saya, ingin membahagiakan orang tua dan menjaga Al-Qur’an seumur hidup saya,” ujar Nazilla dengan haru.

Siswi kelas XII MA Pondok Pesantren Kota (PPK) Alif Laam Miim Surabaya tersebut telah mondok selama kurang lebih enam tahun. Kesehariannya dipenuhi rutinitas setoran hafalan dan mengulang ayat demi ayat agar tetap melekat dalam ingatan. Jalan itu tentu tidak mudah bagi remaja seusianya. Namun, Nazilla memilih bertahan bersama Al-Qur’an hingga akhirnya mampu menuntaskan hafalan 30 juz.

Pondok Pesantren Kota (PPK) Alif Laam Miim Surabaya sendiri dikenal sebagai salah satu pesantren berbasis pendidikan modern di Kota Surabaya. Pesantren yang berada di kawasan Kebonsari tersebut didirikan almarhum Prof. Dr KH. Imam Mawardi.

Saat ini, Pondok Pesantren Kota (PPK) Alif Laam Miim Surabaya diasuh pasangan KH Ahmad Imam Mawardi, dan Ibu Nyai Hj. Ida Rahmah Susiani. Lingkungan pesantren itu dikenal menekankan pendidikan karakter, keilmuan, serta pembinaan hafalan Al-Qur’an bagi para santri.

Nazilla mengaku bersyukur bisa menyelesaikan hafalan di usia muda. Baginya, perjuangan itu bukan hanya tentang dirinya sendiri, tetapi juga tentang kebahagiaan kedua orang tuanya, keluarga besarnya, dan para guru yang telah membimbingnya.

“Saya hanya ingin membuat abi (ayah) dan ummi (ibu), seluruh keluarga besar kami, guru-guru kami, bahagia dunia akhirat. Semoga hafalan ini bisa menjadi hadiah terbaik untuk mereka,” kata Nazilla dengan haru.

Salah satu cita-cita terbesar yang selama ini dia simpan adalah mempersembahkan mahkota kemuliaan untuk ayah dan ibunya kelak di akhirat. Karena itu, dia ingin hafalan Al-Qur’an yang dimiliki tidak berhenti hanya pada proses menghafal, tetapi juga dijaga dan diamalkan sepanjang hidup.

“Saya ingin Al-Qur’an ini menjadi mahkota untuk orang tua saya kelak di akhirat, dan menjadi cahaya untuk hidup saya,” ungkapnya

Perjalanan Nazilla sendiri mungkin baru dimulai. Menjadi hafidzah bukan akhir dari proses panjang bersama Al-Qur’an. Tantangan berikutnya adalah menjaga hafalan agar tetap kuat sekaligus mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, di usia mudanya, Nazilla telah memilih jalan yang tidak mudah. Ketika banyak remaja menghabiskan waktu dengan hiruk-pikuk dunia luar, dia memilih dekat dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Dari Surabaya, putri asal Pamekasan itu kini membawa harapan besar bagi keluarga. Hafalan yang dijaganya hari ini diharapkan menjadi cahaya bagi dirinya, kedua orang tuanya, dan perjalanan hidupnya di masa mendatang.

“Saya berharap Al-Qur’an ini tidak hanya dihafal, tapi juga menjadi cahaya dalam hidup saya dan cahaya bagi kami sekeluarga,” pungkas Nazilla

Doa di Arafah, Dijawab dengan Kabar Bahagia

Di Tanah Suci, Taufadi mengaku sangat terharu menerima kabar tersebut. Menurutnya, momen itu menjadi hadiah paling indah yang datang tepat saat dirinya menjalani wukuf di Arafah.

“Masya Allah bertepatan dengan hari Arafah saat kami wukuf di Arafah, kami mendapatkan hadiah terbaik darimu nak sholihah. Semoga menjadi ilmu yang barokah, perhiasan dan perisai dalam menjalani hidup selanjutnya. Terima kasih telah berjihad untuk kami,” ungkap Taufadi penuh haru.

Ungkapan serupa juga disampaikan Hj Ansari. Bagi dia, perjuangan panjang putrinya selama mondok akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan sekaligus mengharukan bagi keluarga mereka.

Momen haru sekaligus bahagia saat Taufadi sekeluarga wukuf di Arafah dan menerima kabar putrinya rampungkan Hafalan Alquran 30 Juz

“Masya Allah bertepatan dengan hari Arafah, saat kami wukuf di Arafah mendapatkan hadiah terbaik darimu nak sholihah. Semoga menjadi ilmu yang barokah, anak yang berbakti pada agama, bangsa dan negara. Terima kasih telah berjihad untuk kami,” ujar Ansari.

Bagi pasangan politisi PDI Perjuangan asal Kabupaten Pamekasan tersebut, hafalan Al-Qur’an yang berhasil diraih putrinya menjadi nikmat besar di tengah perjalanan spiritual mereka di Tanah Suci.

Di saat jutaan jamaah memanjatkan doa terbaik di Arafah, mereka justru mendapatkan kabar yang akan terus dikenang sepanjang hidup.