YAKUSA.ID — Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) HMI Cabang Tasikmalaya kembali menghadirkan ruang literasi melalui kegiatan Bedah Buku “Penggalan Cerita: Kumpulan Cerita yang Menyelimuti Manusia” karya M. Sukri Ruslan yang diselenggarakan pada 22 Mei 2026 di Sanggar LSMI Tasikmalaya.

Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk apresiasi terhadap setiap karya intelektual alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sekaligus menjadi ikhtiar menjaga tradisi literasi, budaya menulis, dan lingkaran diskusi di tengah kehidupan modern yang semakin dipenuhi oleh sekat-sekat layar gawai.

Dengan suasana sederhana namun penuh kehangatan, kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan komisariat se-wilayah kerja HMI Cabang Tasikmalaya, kader HMI, pegiat literasi, hingga masyarakat umum yang masih memiliki kepedulian terhadap pentingnya membaca, menulis, dan merawat ruang diskusi di zaman sekarang.

Kegiatan berlangsung tidak hanya dalam format bedah buku semata, tetapi juga diisi dengan sharing kepenulisan, refleksi pengalaman kreatif, serta penampilan pembacaan puisi karya kader HMI yang menambah suasana menjadi lebih hidup dan emosional.

Sanggar LSMI malam itu berubah menjadi ruang pertemuan gagasan, rasa, dan pengalaman hidup yang saling dipertukarkan.

Semangat kegiatan ini sejalan dengan tagline yang terus dihidupkan oleh LSMI Tasikmalaya.

“Jangan biarkan lingkaran diskusi kita bubar dan digantikan oleh sekat-sekat layar gawai. Rawatlah lingkaran itu, karena dari sanalah sejarah akan terus hidup dan bernyawa.”

Tagline tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi intelektual tidak lahir dari kesunyian layar, melainkan dari pertemuan manusia-manusia yang mau duduk bersama, berdiskusi, mendengar, dan bertukar gagasan.

Direktur Eksekutif LSMI Tasikmalaya, Cepi Sultoni, dalam penyampaiannya menilai buku karya M. Sukri Ruslan memiliki kekuatan emosional yang begitu dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari.

“Buku ini sangat jujur soal perasaan hidup yang amat sulit untuk diceritakan, tapi Kang Sukri ini sebagai penulis bisa mencurahkan semua dalam buku ini, apalagi bab perjuangan. Ada rasa kehilangan, keresahan, dan harapan yang terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang,” ungkap Cepi.

Menurutnya, karya sastra seperti karya buku cerpen ini menjadi penting di tengah zaman yang semakin sibuk oleh arus informasi instan. Sastra dianggap mampu menjadi ruang refleksi bagi manusia untuk kembali memahami dirinya sendiri dan kehidupan sosial di sekitarnya.

Sementara itu, M. Sukri Ruslan sebagai penulis menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya kepada LSMI Tasikmalaya yang telah menghadirkan ruang literasi seperti bedah buku tersebut.

Ia menegaskan bahwa menulis bukan hanya soal kemampuan merangkai kata, melainkan keberanian menyampaikan pengalaman hidup dan kegelisahan manusia.

“Menulis itu bukan sekadar aktivitas menuangkan kata-kata, tapi cara manusia menjaga pikirannya tetap hidup. Banyak hal yang kadang sulit diucapkan secara langsung, tapi bisa disampaikan lewat tulisan. Saya sangat senang karena sekarang di HMI ada LSMI yang semakin bertumbuh dan menjadi rumah bagi teman-teman yang ingin belajar berkarya, berdiskusi, dan menjaga semangat literasi. Selama masih ada orang yang mau menulis dan membaca, harapan itu masih akan selalu ada,” tutur Sukri.

Diskusi berjalan aktif, hangat dan gembira. Para peserta turut berbagi pandangan mengenai proses kreatif menulis, tantangan menjaga konsistensi berkarya, hingga kondisi literasi generasi muda hari ini yang mulai menghadapi krisis ruang dialog dan budaya membaca.

Selain itu, penampilan pembacaan puisi dari kader-kader HMI turut memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Beberapa puisi yang dibacakan mengangkat tema perjuangan, kemanusiaan, kerinduan, dan kondisi sosial yang menggambarkan keresahan anak muda hari ini.

Bagi LSMI Tasikmalaya, kegiatan seperti ini bukan hanya agenda seremonial organisasi, melainkan bagian dari usaha menjaga denyut intelektual dan kebudayaan agar tetap hidup di tengah masyarakat. Sebab mereka percaya bahwa sejarah besar selalu lahir dari ruang-ruang kecil yang dipenuhi percakapan, pemikiran, dan keberanian untuk berkarya.

Di Sanggar LSMI malam itu, buku bukan hanya dibaca dan dibedah, tetapi juga menjadi jembatan yang mempertemukan manusia dengan pengalaman hidupnya sendiri.

Dari lingkaran kecil diskusi itulah, semangat literasi kembali dinyalakan pelan, hangat, namun penuh harapan.(Hn/Sin)