YAKUSA.ID – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, secara terbuka mengakui stok Pertalite menipis akibat lonjakan permintaan.
“Stok menipis karena lonjakan permintaan. Tapi beberapa hari ke depan aman,” ujarnya di Jakarta, Jumat (16/10/2026). Pernyataan ini menjadi penanda penting bahwa pemerintah memilih jalur transparansi, bukan penyangkalan.
Di Bali, antrean masih terjadi pada hari pertama kebijakan ganjil-genap, Sabtu (17/10/2026). Di SPBU Banyuasri, antrean roda dua memutar hingga ke depan Pasar Banyuasri, sementara roda empat memanjang sekitar satu kilometer. Seorang warga, Putu Nova, mengaku harus mengantre empat jam. Tidak hanya di Bali, antrean juga terjadi di Kota dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, menilai keterbukaan pemerintah sebagai fondasi kepercayaan. “Kami menghargai sikap terbuka ini. Masyarakat tidak diberi janji kosong, melainkan informasi apa adanya. Itu fondasi kepercayaan,” ujarna kepada awak media, Sabtu (17/10).
Di tengah situasi ini, Pertamina Patra Niaga menunjukkan respons yang patut diapresiasi. Sebanyak 48 juta liter Pertalite telah dialirkan ke Bali, cukup untuk 15 hari. Sebanyak 66 SPBU di Denpasar dan Badung dioperasikan 24 jam. Sebanyak 108 mobil tangki dan 465 awak dikerahkan. Pasokan tambahan terus mengalir secara bertahap.
“Kami melihat Pertamina bergerak cepat dan terkoordinasi. Ini bukan respons asal-asalan. Ada perencanaan, ada eksekusi, dan ada pengawalan di lapangan. Kami mengapresiasi kerja keras seluruh tim Pertamina yang tetap siaga di tengah tekanan,” ujar Romadhon.
Romadhon menjelaskan mengapa antrean belum sepenuhnya terurai. “Ganjil-genap mengatur siapa yang boleh mengisi, bukan menambah jumlah pasokan. Jika stok di SPBU terbatas, antrean tetap terjadi—hanya pesertanya yang berbeda. Ini masa transisi, bukan kegagalan. Pertamina hanya menjalankan kebijakan yang diputuskan pemerintah,” jelasnya.
Namun, ia mencatat adanya pelanggaran di lapangan. Kendaraan berpelat genap masih bisa mengisi meski hari ini diperuntukkan bagi pelat ganjil. “Penegakan aturan harus lebih ketat. Jika tidak, antrean akan semakin panjang karena semua orang merasa boleh ikut,” tegas Romadhon.
Terkait perilaku konsumen, Romadhon memberikan catatan tegas. “Menimbun bahan bakar adalah pelanggaran. Tapi ada satu hal lagi yang perlu disadari: jika masih mampu membeli Pertamax, jangan beralih ke Pertalite. Itu bukan penghematan, itu pengambilan hak orang lain. Subsidi ini disediakan untuk yang benar-benar membutuhkan,” pesannya.
Romadhon menambahkan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk perbaikan. “Pemerintah sudah mengakui. Sekarang saatnya memperbaiki: hitung ulang kuota berbasis kebutuhan riil, buka data stok di setiap SPBU, dan reformasi kebijakan harga. Pertamina sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Dukungan dan kepastian kebijakan dari pemerintah akan melengkapi upaya ini,” jelasnya.
Gagas Nusantara berharap situasi segera pulih. “Kami mengajak masyarakat tetap tenang, membeli sesuai kebutuhan, dan tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Stok aman, distribusi sedang dipercepat. Mari saling mendukung,” pungkas Romadhon.






