YAKUSA.ID – Semut Ireng 35 ThreeFive Group Traditional Percussion memperkenalkan wajah baru dalam sebuah acara yang digelar di Three Five Coffee, Pamekasan, Sabtu, 20 Juni 2026 malam.

Launching ini dihadiri ratusan penonton dari berbagai kalangan dan menjadi bagian dari upaya pengembangan tampilan pertunjukan musik daul yang selama ini mereka usung.

Acara dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dengan penurunan tirai merah sebagai penanda dimulainya rangkaian kegiatan. Saat tirai dibuka, dekorasi utama berupa kepala naga raksasa dengan mata LED merah langsung menyala. Efek cahaya dan asap yang menyertai kemunculan visual tersebut memberikan suasana yang berbeda dibandingkan pertunjukan sebelumnya.

Konsep naga merah dipilih sebagai simbol kekuatan dan semangat baru. Selain itu, Semut Ireng 35 juga memperkenalkan identitas visual yang lebih konsisten melalui penggunaan nuansa warna merah dan biru serta logo “35” yang kini lebih ditonjolkan dalam desain panggung. Elemen ini diharapkan dapat memperkuat karakter kelompok sekaligus memudahkan pengenalan di setiap penampilan.

Sebagai kelompok musik daul yang telah dikenal di Madura hingga nasional, Semut Ireng memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Musik daul sendiri berkembang dari tradisi masyarakat dan identik dengan tabuhan ritmis yang energik serta dimainkan secara berkelompok. Dalam perkembangannya, musik ini tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga bagian dari identitas budaya lokal.

Dalam perjalanannya, Semut Ireng telah tampil di berbagai kegiatan, baik di tingkat lokal maupun regional Jawa Timur, serta di ajang nasional. Konsistensi dalam menjaga kualitas penampilan serta upaya melakukan pembaruan konsep menjadi salah satu faktor yang membuat mereka tetap diminati oleh masyarakat.

Manajer ThreeFive Group, Joni, menjelaskan bahwa pembaruan ini merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat identitas sekaligus menjaga relevansi pertunjukan.

Semut Ireng 35

“Konsep ini kami siapkan agar Semut Ireng 35 memiliki ciri khas yang jelas. Nuansa merah dan biru serta logo 35 menjadi identitas baru yang ingin kami tampilkan. Di sisi lain, ini juga bagian dari upaya melestarikan musik daul agar tetap diminati oleh generasi muda,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan visual menjadi salah satu cara untuk mendukung pertunjukan tanpa mengubah esensi musik tradisional itu sendiri. Menurutnya, inovasi perlu dilakukan secara bertahap agar tetap sejalan dengan karakter dasar musik daul.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari pemerintah setempat. Camat Pamekasan, Rahmat Suroso, yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi atas upaya yang dilakukan oleh Semut Ireng 35.

“Kami mengapresiasi kreativitas anak muda Pamekasan yang tetap mengangkat budaya lokal. Inovasi seperti ini penting agar tradisi tidak ditinggalkan, tetapi bisa berkembang mengikuti zaman,” katanya.

Ia juga berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi motivasi bagi kelompok seni lainnya untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Dari internal kelompok, pemilik Semut Ireng 35 menyebut bahwa perubahan ini telah melalui proses yang cukup panjang dan melibatkan berbagai pertimbangan.

“Persiapannya tidak singkat. Kami mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda, tetapi tetap mempertahankan ciri khas yang sudah ada. Harapannya, konsep ini bisa menjadi langkah untuk pengembangan ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, arranger Semut Ireng 35, Hannan Thahir, menjelaskan bahwa pemilihan naga merah juga memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan nilai budaya.

“Naga kami pilih sebagai simbol kekuatan dan penjaga. Kami ingin Semut Ireng 35 tetap menjadi bagian dari upaya menjaga seni tradisional, tetapi dengan pendekatan yang lebih modern,” jelasnya.

Rangkaian acara juga diisi dengan penampilan tari pembuka oleh belasan penari perempuan dengan kostum merah-hijau. Penampilan tersebut dipadukan dengan tabuhan musik daul, sehingga menghadirkan pertunjukan yang lebih variatif dan menarik perhatian penonton.

ThreeFive Group sebagai sponsor utama sekaligus tuan rumah memiliki peran dalam terselenggaranya kegiatan ini. ThreeFive Group diketahui dimiliki oleh Iptu Nur Fajri Alim yang saat ini menjabat sebagai Kasatreskrim Polres Sampang. Keterlibatan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan kreativitas anak muda, khususnya di bidang seni dan budaya.

Melalui peluncuran konsep baru ini, Semut Ireng 35 menunjukkan bahwa musik tradisional masih memiliki ruang untuk berkembang. Pembaruan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada tampilan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan musik daul di tengah perubahan zaman.

Ke depan, Semut Ireng 35 berharap dapat terus tampil di berbagai kegiatan dan menjangkau audiens yang lebih luas. Dengan kombinasi antara tradisi dan inovasi, mereka berupaya menjaga agar musik daul tetap dikenal dan diminati oleh masyarakat, sekaligus membuka peluang untuk tampil di tingkat yang lebih tinggi.