YAKUSA.ID — Menjelang puncak ibadah haji atau yang dikenal dengan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), rasa cemas mulai dirasakan sejumlah jamaah haji Kloter SUB-74, termasuk Taufadi.
Di tengah persiapan keberangkatan menuju Arafah pada Senin (25/5/2026) atau 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah, ia berusaha menguatkan diri sembari menyiapkan strategi agar keluarganya dapat menjalani rangkaian ibadah dengan aman. Tahun ini, Taufadi menunaikan ibadah haji bersama Istrinya, Ibu, dan Ibu Mertuanya.
Kloter SUB-74 menjadi salah satu rombongan yang mendapat jadwal keberangkatan paling akhir di sektor 4, sehingga baru bergerak menuju Arafah pada senin sore dan kemungkinan akan menjalani murur di Muzdalifah.
“Bagi jamaah haji, wukuf di Arafah merupakan rukun paling menentukan dalam ibadah haji. Sabda Rasulullah SAW, “Al-Hajju ‘Arafah” menjadi pengingat bahwa seluruh jamaah, termasuk yang sakit maupun dalam kondisi lemah, wajib menghadiri wukuf agar hajinya sah,” kata pria yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan itu.
Pemerintah Arab Saudi melalui PPIH juga menyediakan fasilitas safari wukuf menggunakan kendaraan khusus bagi jamaah yang memenuhi kriteria, dengan kuota 45 orang di setiap sektor.
Taufadi bersama keluarganya tergabung dalam KBIHU Al-Mabrur. Menjelang Armuzna, jamaah terus diingatkan menjaga stamina, mengurangi aktivitas di luar hotel, dan tidak melakukan kegiatan yang menguras tenaga. Bahkan Pemerintah Arab Saudi juga menutup layanan bus shalawat menuju Masjidil Haram tiga hari sebelum Armuzna agar jamaah fokus beristirahat.
Di tengah suasana itu, jamaah SUB-74 lebih banyak mengisi waktu dengan ibadah di hotel dan masjid sekitar, mulai dari istighasah, tahlil, khatmil Qur’an, membaca Al-Qur’an, yasinan hingga bertawassul.
Namun, di balik suasana religius tersebut, Taufadi mengaku dibayangi kekhawatiran setelah mendengar penjelasan pembimbing ibadah, Alwi Beiq, mengenai kondisi saat puncak haji.
“Jujur saja, ketika saya mendengar penjelasan dari Bapak Alwi Beiq, Pembimbing di (KBIHU) Al-Mabrur tentang gambaran perjalanan Armuzna — mulai dari keberangkatan dari hotel ke Arafah, situasi di Arafah, proses murur di Muzdalifah, kemungkinan jamaah harus berjalan kaki dari Muzdalifah ke tenda Mina jika keluar jalur, perjalanan dari Mina ke tempat jumrah dan kembali lagi agar tidak tersesat, pelaksanaan tawaf dan sa’i ifadah, hingga kenaikan biaya transportasi di Makkah yang bisa mencapai 10 kali lipat saat puncak musim haji —saya merasa cemas,” kata Taufadi.
Ia mengaku penjelasan itu membuatnya merinding dan membangkitkan kekhawatiran menghadapi kondisi lapangan saat Armuzna nanti.
“Penjelasan itu terasa merinding, membuat bulu kuduk saya berdiri,” ujarnya.
Kecemasan Taufadi semakin bertambah setelah istrinya, Hj. Ansari, yang pernah bertugas sebagai pengawas haji Komisi VIII pada 2025, membenarkan bahwa situasi tersebut memang pernah terjadi.
“Saat saya terdiam mendengarkan penjelasan dari Bapak Alwi, tiba-tiba istri saya berbisik, ‘Makanya perbanyak istighfar dan doa, jangan tenang-tenang saja’,” katanya.
Pengalaman haji sebelumnya yang menggunakan visa Furoda pada 2019 membuat Taufadi merasakan perbedaan cukup besar dengan kondisi haji reguler yang ia jalani saat ini. Ia menilai fasilitas dan mobilitas ketika menggunakan visa Furoda jauh lebih nyaman dan terkondisi.
“Membayangkannya saja saya merasa ketakutan, karena apa yang dijelaskan oleh beliau tidak sama situasinya saat kami menunaikan Ibadah Haji menggunakan visa Furoda’ tahun 2019,” ujarnya.
Menghadapi situasi itu, Taufadi dan keluarganya mulai menyusun langkah antisipasi, terutama saat prosesi lempar jumrah. Ia berencana membadalkan lempar jumrah Aqabah hari pertama untuk ibunya, sementara anggota keluarga lain disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing.
Untuk pelaksanaan tawaf dan sa’i ifadah, mereka juga berencana menggunakan mobil golf di Masjidil Haram agar lebih aman dan mengurangi kelelahan.
Di tengah kecemasan tersebut, pesan-pesan pembimbing ibadah terus terngiang di benak Taufadi, mulai dari menjaga niat haji, tidak melanggar larangan ihram, memperbanyak talbiyah, hingga memperbanyak istighfar dan doa selama wukuf di Arafah.
Menurutnya, Armuzna adalah fase ibadah yang penuh ketidakpastian.
“Pelaksanaan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) adalah puncak ibadah haji yang serba mungkin dan tidak mungkin. Apa yang diperkirakan mudah bisa menjadi sulit, dan apa yang diperkirakan sulit justru bisa menjadi mudah,” katanya.
Ia pun berusaha menyerahkan seluruh ikhtiar dan harapannya kepada Allah SWT menjelang puncak ibadah haji.
Dalam penutupan pembekalan, pesan terakhir Alwi Beiq menjadi doa yang paling diingat Taufadi menjelang keberangkatan ke Arafah.
“Ya Allah, entaskanlah hamba, orang tua hamba, istri/suami hamba, mertua hamba, serta anak-cucu hamba dari api neraka.” ungkap Taufadi.
Saat proses keberangkatan menuju Arafah pada Senin (25/5/2026), suasana di dalam bus dipenuhi lantunan talbiyah, dzikir, dan doa-doa para jamaah.
Bacaan tersebut dipandu oleh pembimbing ibadah KBIHU Al-Mabrur, sehingga perjalanan menuju Padang Arafah berlangsung dalam suasana khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT.



