Daerah  

Riuh Demonstrasi, Riuh Warganet: Pesan Avatar Aang dan SpongeBob untuk Pendemo

Hasibuddin*

YAKUSA.ID – Setiap demonstrasi yang berlangsung di ruang publik hari ini hampir selalu memiliki dua panggung sekaligus. Yang pertama adalah jalanan, tempat massa berkumpul, poster diangkat, dan tuntutan disuarakan. Yang kedua adalah media sosial, ruang yang jauh lebih luas, lebih riuh, dan sering kali lebih kejam.

Di sanalah persepsi dibentuk, simpati diuji, dan legitimasi diperdebatkan. Dalam pusaran itu, muncul anggapan bahwa warganet semakin tidak respek terhadap pendemo. Kritik dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian, bahkan pengkhianatan terhadap semangat perjuangan.

Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu. Demonstrasi merupakan ekspresi sah dalam negara demokratis. Ia lahir dari kegelisahan, kemarahan, dan harapan akan perubahan. Banyak kebijakan besar, di negeri ini maupun di tempat lain, tidak akan pernah bergeser tanpa tekanan massa. Karena itu, pendemo kerap diposisikan sebagai penjaga nurani publik.

Namun, demokrasi juga bergerak mengikuti zaman. Ketika ruang digital tumbuh menjadi arena utama pertukaran gagasan, logika legitimasi pun ikut berubah. Aksi tidak lagi cukup hanya besar di jalan, tetapi juga harus masuk akal di mata publik digital.

Warganet, dalam konteks ini, bukanlah penonton pasif. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang sama—yang bekerja, terdampak kebijakan, dan menanggung konsekuensi dari setiap aksi kolektif. Ketika kritik bermunculan, sering kali yang dipersoalkan bukanlah tujuan demonstrasi, melainkan cara dan dampaknya.

Penutupan jalan yang berkepanjangan, gangguan terhadap aktivitas ekonomi, atau kericuhan yang merugikan warga lain menjadi alasan mengapa simpati tidak otomatis mengalir.

Dalam bahasa sederhana, banyak warganet merasa tidak diajak memahami. Mereka melihat potongan video tanpa konteks, slogan tanpa penjelasan, dan tuntutan yang terdengar besar tetapi tidak selalu jelas. Di era banjir informasi, publik menuntut narasi yang terang. Ketika kejelasan itu tidak hadir, kecurigaan pun tumbuh. Di titik inilah persepsi mulai bergeser, dari empati menjadi skeptisisme.

Tokoh Aang dalam Avatar: The Last Airbender pernah berkata,

“Kekuatan sejati bukan hanya tentang melawan, tapi tentang menjaga keseimbangan.”

Kalimat ini terasa relevan dalam membaca relasi antara pendemo dan warganet. Demonstrasi memang tentang perlawanan, tetapi ia juga dituntut menjaga keseimbangan antara hak menyampaikan pendapat dan hak publik lain untuk tidak dirugikan. Ketika keseimbangan itu goyah, dukungan pun ikut melemah.

Kritik warganet juga tidak bisa dilepaskan dari pengalaman kolektif masa lalu. Banyak demonstrasi besar yang berakhir tanpa perubahan nyata. Sebagian bahkan ditengarai ditunggangi kepentingan politik tertentu. Akumulasi pengalaman itu membentuk memori publik yang skeptis. Akibatnya, setiap aksi baru tidak lagi disambut dengan optimisme, melainkan dengan pertanyaan: apakah ini akan berbeda, atau hanya pengulangan dari siklus lama?

Namun skeptisisme tidak selalu berarti penolakan. Ia bisa dibaca sebagai mekanisme pertahanan publik. Warganet menuntut bukti keseriusan, konsistensi tuntutan, dan kejujuran narasi. Dalam hal ini, kritik menjadi cara untuk menguji ketahanan moral sebuah gerakan. Apakah ia cukup kuat untuk menjawab pertanyaan publik, atau justru rapuh ketika dipersoalkan?

Di sisi lain, tidak adil pula jika semua kritik dibenarkan. Ada momen ketika warganet melampaui batas kewajaran. Demonstrasi direduksi menjadi sekadar kerumunan pengganggu, pendemo dilabeli bayaran, dan tuntutan dipatahkan dengan ejekan.

Pola ini menunjukkan kegagalan empati yang sama bahayanya dengan aksi yang tidak terukur. Demokrasi kehilangan kedalaman ketika perbedaan sikap tidak lagi diperlakukan sebagai ruang dialog, melainkan medan saling meniadakan.

SpongeBob SquarePants, tokoh kartun yang sering dianggap polos, pernah mengucapkan kalimat sederhana:

“Aku mungkin naif, tapi aku tahu apa yang benar.”

Kalimat ini mencerminkan dilema banyak pendemo hari ini. Idealisme sering dicap naif, seolah tidak realistis atau tidak memahami kompleksitas. Padahal, banyak aksi lahir justru dari keyakinan moral yang jujur—sesuatu yang kerap hilang dalam kalkulasi politik dan komentar sinis.

Masalahnya, keyakinan moral saja tidak cukup. Di ruang publik yang terfragmentasi, pesan harus disampaikan dengan cara yang bisa dipahami lintas kelompok. Demonstrasi yang gagal berkomunikasi akan mudah disalahartikan. Ketika publik hanya melihat dampak negatif tanpa memahami tujuan, empati pun sulit tumbuh. Inilah tantangan besar gerakan sosial di era digital: bagaimana tetap lantang tanpa kehilangan kejelasan.

Relasi antara pendemo dan warganet sejatinya adalah relasi yang saling membutuhkan. Demonstrasi memerlukan dukungan publik agar tuntutannya memiliki bobot politik. Sementara warganet, dengan daya kritisnya, berperan sebagai penguji kewarasan gerakan. Ketegangan muncul ketika keduanya berhenti saling mendengar. Pendemo merasa dikhianati, warganet merasa diabaikan.

Avatar Aang juga pernah mengingatkan,

“Kemarahan bisa menjadi guru, tapi bukan pemimpin.”

Banyak demonstrasi lahir dari kemarahan yang sah, tetapi kemarahan yang dibiarkan memimpin justru sering menjauhkan simpati. Publik digital, yang menyaksikan dari kejauhan, cenderung lebih peka pada ekses daripada konteks. Sekali kekerasan atau kekacauan mendominasi narasi, pesan utama pun tenggelam.

Di titik ini, adaptasi menjadi keniscayaan. Demonstrasi tidak harus kehilangan militansi, tetapi perlu memperkuat akuntabilitas. Tuntutan yang jelas, sikap yang terukur, dan kesadaran akan dampak sosial adalah modal penting untuk merebut kembali kepercayaan publik. Media sosial bukan musuh, melainkan ruang negosiasi baru yang menuntut kecakapan komunikasi.

Sebaliknya, warganet juga perlu menahan diri dari sinisme berlebihan. Kritik yang sehat seharusnya membuka ruang perbaikan, bukan mematikan semangat. Mengolok-olok perjuangan orang lain tanpa memahami latar belakangnya hanya akan memperlebar jurang. Dalam masyarakat yang semakin terpolarisasi, empati menjadi mata uang yang langka sekaligus berharga.

Pada akhirnya, warganet bukan tidak respek dengan pendemo. Mereka hidup dalam konteks yang berbeda, dengan standar kejelasan dan akuntabilitas yang lebih tinggi. Kritik mereka sering kali lahir dari pengalaman, bukan dari kebencian.

Jika demonstrasi mampu menjawab kegelisahan itu dengan narasi yang jujur dan tindakan yang bertanggung jawab, simpati publik bukan hal yang mustahil.
Demokrasi tidak hanya soal siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling mampu menjaga keseimbangan antara idealisme dan tanggung jawab. Di antara teriakan di jalan dan komentar di linimasa, tantangan kita adalah memastikan keduanya bertemu pada satu tujuan: perubahan yang masuk akal, adil, dan benar-benar berpihak pada kepentingan bersama.

 

*Penulis adalah sejenis makhluk yang senang menonton kartun Avatar Aang dan Spongebob

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *