YAKUSA.ID – Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, sosok KH A. Nawawi Maksum atau yang akrab disapa Gus Nawawi hadir sebagai figur ulama muda yang mampu menjaga keseimbangan antara nilai-nilai tradisi pesantren dan semangat modernitas.
Kiai asal Bondowoso ini dikenal luas karena dakwahnya yang menyejukkan, kedekatannya dengan masyarakat, serta hubungan baiknya dengan berbagai kalangan, termasuk aparat keamanan.
Lahir dan besar dari lingkungan pesantren, Gus Nawawi merupakan penerus perjuangan KH A. Maksum Zainullah, pendiri Pondok Pesantren Nurut Taqwa di Desa Cermee, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Sejak muda, ia sudah ditempa dalam atmosfer keilmuan Islam yang kuat. Tak hanya menekuni pendidikan agama di pesantren keluarganya, ia juga menimba ilmu di sejumlah pondok pesantren besar di Jawa Timur seperti Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Zainul Hasan Genggong, dan Sidogiri Pasuruan.
Perjalanan menuntut ilmu tersebut membentuk karakter Gus Nawawi sebagai ulama yang berwawasan luas, berpikiran terbuka, namun tetap berpegang teguh pada prinsip keagamaan. Ia dikenal tidak mudah terjebak dalam fanatisme, melainkan lebih mengedepankan nilai keseimbangan antara ilmu dan akhlak.
Beberapa tahun kemudian, ia sempat melanjutkan studi ke Hadramaut, Yaman, tempat yang dikenal sebagai salah satu pusat ilmu keislaman dunia. Di sana, Gus Nawawi memperdalam ilmu hadis dan tasawuf, sekaligus memperluas jejaring ulama internasional.
Sekembalinya ke tanah air, Gus Nawawi memutuskan untuk melanjutkan perjuangan ayahandanya dengan mengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa. Di bawah kepemimpinannya, pesantren tersebut berkembang pesat dan dikenal sebagai pusat pendidikan Islam yang aktif serta terbuka terhadap perkembangan zaman. Ia mendorong para santri agar tidak hanya memahami kitab kuning, tetapi juga mampu beradaptasi dengan tantangan kehidupan modern.
Menurutnya, santri tidak boleh hanya pandai mengaji, tetapi juga harus siap menjadi bagian dari perubahan sosial yang membawa manfaat bagi umat.
Dalam kesehariannya, Gus Nawawi tampil sebagai sosok sederhana. Ia lebih sering terlihat bersama santri dan masyarakat desa, berdialog tentang kehidupan, keagamaan, hingga persoalan sosial. Pendekatan inilah yang membuatnya begitu dicintai jamaah.
“Kiai bukan hanya untuk memberi tausiah di atas panggung, tapi juga harus turun mendengarkan suara umat,” ujarnya dalam satu kesempatan ceramah.
Pesantren Sebagai Rumah Persaudaraan dan Kedekatan dengan Aparat
Pondok Pesantren Nurut Taqwa kini bukan hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi juga ruang pertemuan sosial. Setiap bulan, pesantren ini menggelar kegiatan keagamaan seperti istighosah, majelis sholawat, dan pengajian akbar yang dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah.
Melalui kegiatan tersebut, Gus Nawawi selalu menekankan pentingnya menjaga persaudaraan, menjauhi fitnah, dan menghindari permusuhan.
Gaya dakwahnya yang lembut membuatnya mudah diterima oleh semua kalangan. Ia tidak suka menghakimi, melainkan mengajak dengan kasih sayang. Prinsipnya sederhana, bahwa Islam harus tampil sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan alat untuk memecah belah umat. Karena itu pula, pesantren yang diasuhnya sering menjadi tempat berkumpul para tokoh lintas latar belakang, baik pejabat, aparat, maupun masyarakat biasa.
Salah satu hal yang menarik adalah kedekatan Gus Nawawi dengan institusi kepolisian. Ia dikenal sebagai ulama yang menjalin komunikasi baik dengan aparat Polri, terutama dalam hal menjaga stabilitas dan ketertiban masyarakat.
Pada momentum Hari Raya Idul Adha tahun 2021, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bahkan mengirimkan hewan kurban ke Pondok Pesantren Nurut Taqwa sebagai bentuk silaturahmi. Hewan kurban itu diterima langsung oleh Gus Nawawi, yang kemudian menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan Polri kepada kalangan pesantren.
Dalam beberapa pernyataan publiknya, Gus Nawawi juga kerap mendukung langkah-langkah kepolisian dalam menciptakan situasi aman dan damai, khususnya di wilayah Jawa Timur.
Ia mengapresiasi peran Polri dalam menjaga keharmonisan antarwarga serta menindak tegas berbagai bentuk provokasi yang dapat memecah belah masyarakat. Menurutnya, hubungan ulama dan aparat keamanan harus bersifat saling menguatkan, sebab keduanya sama-sama bertugas menjaga keselamatan umat dan ketenteraman bangsa.
“Ulama dan aparat punya peran berbeda tapi tujuannya sama, yaitu menjaga kedamaian. Ulama menenangkan hati, polisi menenangkan situasi. Kalau keduanya bersatu, insyaallah bangsa ini kuat,” tutur Gus Nawawi dalam sebuah forum silaturahmi tokoh agama di Bondowoso.
Kedekatan yang dibangun Gus Nawawi dengan berbagai unsur pemerintah bukanlah bentuk pencitraan, melainkan wujud tanggung jawab moral seorang kiai terhadap stabilitas sosial di daerahnya. Ia menilai, di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, pesantren memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi benteng moral dan sumber kesejukan.
Karena itu, ia mendorong santrinya agar tidak alergi terhadap dialog dengan siapa pun, termasuk aparat, pejabat, maupun masyarakat nonpesantren.
Kini, di bawah kepemimpinan Gus Nawawi, Pondok Pesantren Nurut Taqwa semakin dikenal tidak hanya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat kegiatan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan. Santri diajarkan untuk berwirausaha, menulis, berdakwah digital, hingga mengelola media sosial secara positif.
Meski telah dikenal luas, Gus Nawawi tetap menolak disebut sebagai tokoh besar. Ia lebih nyaman disebut “pelayan umat”. Baginya, ilmu dan jabatan hanyalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
“Yang besar itu Allah, yang kita bawa cuma amanah. Kalau tidak dijaga, semua akan hilang,” katanya.
Dengan visi yang menyejukkan dan gaya kepemimpinan yang bersahaja, KH A. Nawawi Maksum kini menjadi salah satu figur penting di kawasan Tapal Kuda.
Ia bukan hanya sosok ulama yang disegani, tetapi juga jembatan yang menghubungkan pesantren, masyarakat, dan aparat negara. Dalam setiap langkahnya, Gus Nawawi terus menggaungkan pesan damai, menebar kasih, dan menanamkan nilai keislaman yang rahmatan lil alamin.












