Oleh: Moh. Amirul Mukminin, Penulis Merupakan Aktivis Lingkungan, Penggerak Penolakan Pembanguan Tambak Pantai Desa Gersik Putih
“Pajjher lagghu arena Pon nyonar, bapak tani setedungpon jhege’eh.”
Penggalan syair Madura itu bagai doa yang berhembus dari ladang. Ia adalah suara petani, manusia yang seluruh hidupnya bertaruh pada kemurahan alam.
Panen kali ini, hasil dari hujan yang turun musim kemarin, adalah upah dari keringat yang jatuh. Di sana, ada pesan sunyi bahwa Tuhan tak pernah melupakan petani.
Sehari setelah bendera merah putih berkibar gagah di angkasa, tanah yang dirawat bagai anak sendiri memberi balasnya.
Beras yang terkumpul bukan sekadar makanan, melainkan napas panjang untuk bertahan hidup.
Maka wajah-wajah petani pun merekah. Panen raya bagi mereka adalah semacam hari raya, merayakan kerja yang tak selalu disaksikan orang.
Ada beras yang dimakan bersama keluarga, ada pula yang sengaja dibagi ke tetangga. Hidup petani adalah hidup berbagi, sebagaimana kelopak bunga mekar menebarkan aroma harum di sekelilingnya.
Seumpama hidup adalah pohon, maka petani adalah akar. Selama akar itu kuat, batang, ranting, dan daun akan tetap tumbuh.
Namun bila akar melemah, pohon pun tumbang. Barangkali itu pula yang dipikirkan presiden ketika mengangkat ketahanan pangan sebagai pilar kepemimpinan.
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, tampil bersih dan gagah di layar media, menjanjikan kesejahteraan petani. Tetapi janji itu, sayangnya, tak sepenuhnya menembus ujung timur Madura.
Beberapa hari lalu saya berjalan di jalanan kota Sumenep.
Lalu lintasnya riuh, klakson bersahutan, lampu merah membuat pengendara terhenti. Saya mendapati bahwa menunggu lampu hijau adalah pelajaran sabar tersulit. Bukankah petani pun demikian?
Mereka menunggu musim dengan sabar, menunggu hujan turun tanpa bisa menekan “klakson” pada langit. Bedanya, kita bisa memilih untuk tidak membunyikan klakson, sementara mereka tidak bisa menolak waktu.
Perjalanan saya berhenti di pasar. Saya mengantar orang tua yang datang dari kepulauan. Di darat, harga barang lebih murah, maka belanja jadi rutinitas.
Di salah satu kios rempah, saya mendengar harga bawang merah, lima puluh enam ribu per kilo. Seketika ingatan saya melayang pada cerita kawan-kawan aktivis, pemerintah pusat memberi perhatian lebih untuk pengembangan bawang merah di Sumenep.
Empat Kecamatan, Perkecamatan miliaran rupiah digelontorkan, untuk air, jalan, alat pertanian, hingga bibit gratis. Tetapi mengapa harga di pasar tetap tinggi?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya. Secara teori, jika barang melimpah harga harusnya turun. Tapi kenyataan berkata lain.
Siapa yang berdusta? Saya masih percaya petani selalu tulus. Mereka menanam bukan untuk menipu. Jika ada dusta, mungkin ia tersembunyi di ruang-ruang gelap yang tak pernah ditembus cahaya.
Eko Prasetyo dalam Islam Kiri pernah menulis:
“Sulit dielakkan, mereka mungkin terlanjur memiliki hasrat yang besar dan buta pada penderitaan.
” Kata-kata itu terasa hidup ketika pasar di hadapan saya tiba-tiba menyerupai gedung-gedung pemerintahan. Ada transaksi yang tak terlihat, ada perjanjian yang tak terdengar, ada jual beli yang tak tercatat.
Semua peristiwa ini seakan saling berhubungan. Seperti ketika saya harus ke Desa Ketawang, daerah perbatasan Ganding dan Guluk-guluk, untuk melayat keluarga berduka.
Kami harus memutar jauh, sebab tidak ada jalan yang menembus sawah-sawah. Betapa ironis, sawah yang memberi makan, justru tak diberi jalan yang layak.
Bantuan yang dijanjikan negara terasa seperti hujan yang menguap sebelum sempat jatuh ke tanah.
Alam tidak pernah berdusta. Hujan yang turun selalu jujur menyuburkan. Tanah yang gersang selalu jujur menolak. Tetapi manusia bisa memanipulasi musim, bisa membuat bantuan menguap tanpa jejak.
Saya pun teringat Rodion Raskolnikov dalam Kejahatan dan Hukuman karya Dostoyevsky.
Ia hidup dalam penjara batinnya sendiri, dihantui rasa bersalah. Mungkin mereka yang menyelewengkan hak petani pun suatu hari akan mengalami hal serupa.
Tidak ada tembok besi, tetapi ada jeruji yang dipasang oleh hati nurani.
Pada akhirnya, saya kembali merenungi syair Madura itu. Bahwa hidup petani adalah hidup yang selalu menaruh harapan pada alam.
Mereka adalah akar yang menjaga pohon kehidupan. Dari tangan mereka, kita bisa makan. Dari doa mereka, kita bisa bertahan.
Filsafat sederhana petani adalah ini, hidup bukan soal menguasai, melainkan merawat, bukan soal menimbun, melainkan berbagi.
Maka pertanyaannya, sebelum akar ini rapuh, sebelum pohon ini tumbang, apakah kita berani sungguh-sungguh berpihak pada mereka?












