YAKUSA.ID — Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) Karyoto bakal purna tugas seiring usianya yang mencapai batas pensiun anggota Polri, yakni 58 tahun.
Ketua Umum Kaukus Muda Indonesia (KMI) Edi Homaidi mendesak agar Nahkoda yang bakal menggantikan Kartoyo memiliki kemampuan strategis, pengalaman mumpuni di bidang reserse, serta rekam jejak kepemimpinan yang kuat dan bersih
“Ini momen yang tepat bagi Polri untuk melakukan suksesi yang berorientasi pada penguatan profesionalisme, integritas, dan responsif terhadap dinamika masyarakat metropolitan,” kata dia.
Edi Homaidi, menyampaikan Pemprov DKI Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, menjadi representasi sebuah negara, baik pergerakan politik, ekonomi, dan sosial.
“Kapolda Metro Jaya bukan jabatan simbolik, tapi harus diisi sosok yang siap kerja keras dan tahan uji,” tegas Edi dalam keterangannya, Rabu (9/7).
Berhembus kabar salah satu suksesor Kartoyo adalah Irjen Pol Asep Edi Suheri, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Bareskrim Polri (Wakabareskrim).
Edi menilai Asep bukan sosok baru dalam dunia reserse. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim yang menangani sejumlah kasus besar seperti penipuan investasi bodong, penyebaran hoaks nasional, hingga kejahatan digital lintas negara.
Tak hanya itu, ia juga pernah bertugas sebagai Kapolres, hingga menduduki posisi penting di Divisi Hubinter Polri (Interpol).
“Asep punya kombinasi pengalaman lapangan dan strategis. Di tengah maraknya kejahatan digital, urban crime, dan tantangan disinformasi, kita butuh sosok yang paham karakter wilayah dan teknologi. Beliau punya kapasitas itu,” lanjut Edi.
Selain pengalaman teknis, nama Bapak Irjen Pol Asep juga dikenal relatif bersih dari kontroversi internal dan memiliki pendekatan yang terbuka kepada media maupun masyarakat sipil. Hal ini penting untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi Polri, khususnya di Jakarta yang sensitif terhadap dinamika sosial dan media.
Lebih lanjut, Edi menegaskan bahwa KMI tidak sedang “menunjuk” atau melobi nama tertentu, tetapi mendorong agar proses penunjukan Kapolda Metro Jaya berikutnya dilakukan dengan pendekatan meritokrasi yang transparan, bukan hanya berdasarkan kedekatan atau senioritas semata.
“Kami percaya Polri punya mekanisme internal yang bijak. Tapi publik juga berhak menyuarakan harapannya. Kami ingin pemimpin yang punya rekam jejak, bukan sekadar popularitas. Irjen Asep adalah salah satu dari sedikit perwira tinggi yang bisa menjawab tantangan itu secara faktual,” tutup Edi.



