YAKUSA.ID – Dalam semangat menjaga warisan budaya dan memperkuat identitas kader yang berakar pada nilai-nilai seni dan budaya lokal, Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) HMI Cabang Tasikmalaya sukses menyelenggarakan program bertajuk “Kader Membatik”.
Program ini merupakan bentuk kolaborasi dengan YCAB Foundation dan Rumah Belajar Batik, yang berlokasi di Kompleks Lingkungan Industri Kecil (LIK), Jalan Perintis Kemerdekaan KM 5, tepat di seberang Kampus STIA.
Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta yang merupakan kader HMI dari berbagai komisariat HMI dan KOHATI di Tasikmalaya dan ada dari Pelita Intan Muda Kota Tasikmalaya. Di antaranya berasal dari Komisariat IAIT, Hasan Basri, Bekti Zaenudin, Unsil, Latifah dan Lafran.
Selama pelatihan, para peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknik membatik secara langsung, tetapi juga diajak menelusuri nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam motif batik khas Tasikmalaya, sebuah warisan budaya yang menyimpan identitas, sejarah, serta semangat masyarakat Priangan Timur.
Direktur Eksekutif LSMI HMI Cabang Tasikmalaya Cepi Sultoni menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan keterampilan seni, tetapi merupakan bagian dari proses perkaderan budaya yang bertujuan membentuk kader yang berkesadaran kultural, kritis secara intelektual, dan progresif secara sosial.
“Program ini lahir dari gagasan kader LSMI Tasik dan kami meyakini bahwa seni dan budaya adalah alat perjuangan. Kader HMI hari ini tak cukup hanya fasih bicara wacana dan diskusi saja,” katanya, Jumat (25/7/2025).
“Tetapi juga harus peka dan aktif melestarikan akar budayanya. Lewat membatik, kita menyentuh ruh warisan lokal yang lahir dari tangan rakyat dan dipenuhi semangat simbolik,” imbuhnya.
Program ini menjadi bagian dari strategi LSMI Cabang Tasikmalaya dalam meneguhkan peran kader HMI sebagai penjaga nilai-nilai luhur bangsa.
Terlebih, lanjut Cepi, di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang sering menggeser posisi budaya lokal, pelestarian batik bukan hanya menjadi tugas seniman, tetapi juga tanggung jawab moral kaum intelektual muda.
Menurut salah satu peserta dari KOHATI Komisariat Keluarga Besar IAIT, pengalaman mengikuti program ini membuka cara pandang baru bahwa perjuangan tak melulu soal orasi dan aksi massa, tapi juga bisa lahir dari sapuan canting, motif, hingga aroma malam batik yang khas.
“Membatik itu refleksi. Kami belajar sabar, teliti, dan memahami bahwa setiap motif punya cerita. Ini cara baru kami merawat budaya dengan tangan sendiri,” tuturnya.
Pelatihan yang berlangsung dalam suasana santai namun khidmat ini juga menjadi ruang silaturahmi lintas komisariat.
Tidak hanya memperkuat relasi antar kader, tetapi juga menjadi ajang mempertemukan energi-energi muda yang cinta tanah air lewat medium yang tak biasa yaitu kain dan warna.
Kehadiran YCAB Foundation dan Rumah Belajar Batik juga memberikan penguatan materi teknis dan nilai-nilai kewirausahaan budaya, agar ke depan peserta tidak hanya memahami proses membatik, tapi juga memiliki potensi mengembangkan usaha batik sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi berbasis tradisi.
Keberhasilan program ‘Kader Membatik’ ini diharapkan menjadi inspirasi bagi kader HMI Cabang Tasikmalaya atau mahasiswa lainnya untuk tidak meninggalkan aspek kebudayaan dalam proses kaderisasi. Karena budaya bukan hanya pelengkap gerakan, tapi pondasi kebangsaan yang tak boleh runtuh.
Dengan demikian, LSMI HMI Cabang Tasikmalaya terus mengukuhkan langkahnya dalam melahirkan kader-kader yang tak hanya berpikir dan bergerak, tetapi juga mewarnai dan menghidupkan kembali warisan budaya yang mulai redup. (YAKUSA.ID-MH)


