YAKUSA.ID – Sebuah rumah dengan dinding sebagian masih berupa anyaman bambu dan lantai tanah menjadi salah satu titik yang didatangi Ruang Sejahtera. Di Dusun Solong Barat, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Sampang, rumah milik Nabyah itu mulai dibenahi pada 6 September 2026.

Rumah Nabyah hanyalah satu contoh dari cara Ruang Sejahtera bergerak. Bagi yayasan yang diketuai Nasiri, persoalan warga tidak selalu datang dalam bentuk yang sama. Karena itu, bantuan yang diberikan pun tidak berhenti pada satu jenis kegiatan.

Gerakan tersebut sebenarnya telah dimulai jauh sebelum nama Ruang Sejahtera dikenal sebagai sebuah yayasan.

“Awal 2025 kami sudah bergerak dengan sumbangan antar teman, untuk nama disahkan pada tanggal 9 April 2025,” kata Nasiri.

Dari pola sederhana itu, kegiatan kemudian berkembang. Sumbangan yang awalnya dihimpun di antara teman digunakan untuk menjangkau warga yang membutuhkan bantuan. Seiring waktu, bentuk bantuannya mengikuti kebutuhan yang ditemukan di lapangan.

Pada akhir Agustus 2026, Ruang Sejahtera mendatangi dua perempuan lanjut usia, Embu dan Jemi’ah, di Dusun Kasangkah, Desa Banyukapah. Bantuan yang dibawa berupa 10 kilogram beras, kebutuhan sehari-hari, serta uang tunai. Bantuan tersebut berasal dari para donatur dan diserahkan langsung kepada penerima.

Beberapa hari sebelumnya, gerakan yang sama mengambil bentuk berbeda. Di tengah persoalan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah, Ruang Sejahtera menyalurkan air bersih ke desa-desa terdampak di Sampang sepanjang Agustus 2026.

Dari kebutuhan pangan dan kebutuhan sehari-hari, bergerak ke air bersih, kemudian berlanjut pada kebutuhan tempat tinggal. Pola itu memperlihatkan bagaimana Ruang Sejahtera menjalankan kegiatannya: tidak terpaku pada satu program bantuan, tetapi menyesuaikan bentuk kegiatan dengan persoalan yang ditemui warga.

Nasiri mengatakan gerakan tersebut telah berjalan lebih dari satu tahun. Selama periode itu, dukungan dari para donatur menjadi bagian penting dalam pelaksanaan berbagai kegiatan.

“Sudah satu tahun lebih,” ujar Nasiri.

Dalam perjalanannya, Ruang Sejahtera tidak hanya mengandalkan satu bentuk kegiatan sosial. Bedah rumah menjadi salah satu upaya untuk menjawab kebutuhan dasar warga yang kondisinya membutuhkan perbaikan. Bantuan sembako dan uang tunai menyasar kebutuhan sehari-hari, sementara distribusi air bersih dilakukan ketika persoalan kekeringan menjadi kebutuhan yang lebih mendesak.

Cara kerja seperti itu membuat kegiatan Ruang Sejahtera bergerak dari satu kebutuhan ke kebutuhan lainnya. Titiknya bukan pada jenis bantuannya, melainkan pada kebutuhan warga yang hendak dijawab.

Dari sumbangan antar teman pada awal 2025 hingga berbagai kegiatan sosial pada 2026, Ruang Sejahtera tumbuh dengan pola yang relatif sama: menghimpun dukungan, mencari warga yang membutuhkan, kemudian menyalurkan bantuan secara langsung.

Di Sampang, kebutuhan warga datang dengan beragam bentuk. Ada rumah yang perlu diperbaiki, ada keluarga yang membutuhkan bahan pangan, ada warga lanjut usia yang membutuhkan bantuan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dan ada desa yang membutuhkan air bersih.

Ruang Sejahtera menjawab kebutuhan-kebutuhan itu dengan cara yang berbeda pula. Gerakannya berangkat dari sumbangan kecil, tetapi kemudian diarahkan untuk menjangkau persoalan yang lebih konkret di tengah masyarakat. Kegiatan sosial itu pun turut diunggah di akun tiktok mereka @ruangsejahtera.idn.

“Sekadar ajakan kepada siapapun yang peduli, mari kita berbagi kebahagiaan,” tukas Nasiri.