Oleh: Ludianto
Pemuda Muhammadiyah Sumenep
Saya sering memikirkan hal sederhana mengenai kepemimpinan di desa. Kepala desa dipilih untuk berada di pihak rakyat, merasakan apa yang mereka rasakan, dan memastikan setiap kebijakan kembali menjadi manfaat nyata bagi warganya.
Karena itu, ketika muncul rencana study tour kepala desa ke Ibu Kota Nusantara (IKN), saya tersentak dan bertanya, siapa sebenarnya yang akan mendapatkan manfaat dari perjalanan itu?
IKN memang dibangun dengan visi besar sebagai lambang masa depan Indonesia. Namun saat ini, yang terlihat di sana masih sebatas proyek besar yang sedang dirangkai.
Bangunan masih berdiri tanpa penghuni, roda pemerintahan belum berjalan penuh, dan denyut kehidupan masyarakat belum terwujud. Dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa dipelajari untuk kemajuan desa?
Saya tidak anti dengan pembangunan IKN. Saya bangga pada negeri ini yang tengah menata masa depannya.
Tetapi menjadikannya tujuan belajar kepala desa saat masih tahap awal pembangunan terasa kurang bijak.
Terlebih ketika anggaran desa sangat ketat dan masyarakat sedang dihimpit berbagai kebutuhan mendesak.
Yang sering terjadi dalam laporan anggaran desa, banyak kegiatan diberi label “kebutuhan mendesak” atau “keperluan darurat” dengan biaya yang besar.
Namun pada saat yang sama, jalan desa yang sudah mengelupas, berlubang, dan hancur tidak kunjung diperbaiki.
Padahal setiap hari masyarakat melewati jalan itu, mengeluh, bahkan merasa keselamatan mereka terancam.
Di sinilah saya merasa suara rakyat sering kali tenggelam oleh agenda yang tidak pernah mereka pahami manfaatnya.
Study tour mungkin terdengar keren di atas kertas, tetapi apa gunanya jika sepulang dari perjalanan itu tidak ada satu pun perubahan yang dirasakan warga di kampungnya sendiri?
Masih banyak desa lain yang sudah terbukti mampu menghadirkan perubahan nyata melalui inovasi dan pemberdayaan masyarakat.
Dari sanalah kepala desa bisa belajar, dari praktik yang sudah terbukti berdampak, bukan dari pembangunan yang belum selesai.
Rakyat tidak meminta kepala desa pulang membawa foto-foto perjalanan atau cerita dari hotel mewah.
Yang mereka harapkan adalah solusi yang bisa dinikmati bersama. Jalan yang lebih baik. Pelayanan yang lebih mudah. Ekonomi lokal yang semakin hidup.
Saya percaya setiap rupiah uang rakyat harus kembali dalam bentuk kemanfaatan yang jelas.
Perjalanan jauh ke IKN hanya akan menjadi sia-sia jika tidak menghadirkan perubahan yang bisa dirasakan oleh mereka yang memilih dan mempercayai pemimpinnya.
Sampai hari ini, saya masih menunggu alasan yang kuat, untuk apa kepala desa belajar ke IKN dalam kondisi seperti sekarang?












