Drama Cinta Imam Wahyudi: Tak Direstui, Berujung Penganiayaan, Kini Malah Masuk Tahanan

Potret ilustrasi masalah asmara (pixabay)
Potret ilustrasi masalah asmara (pixabay)

YAKUSA.ID  — Kisah cinta remaja asal Kabupaten Sumenep, Imam Wahyudi, berubah menjadi drama pelik yang menyeretnya pada dua persoalan hukum sekaligus.

Cinta yang diduga tak direstui orang tua sang kekasih, L, kini berkembang menjadi laporan asusila dan dugaan penganiayaan yang membuat publik geleng-geleng kepala.

Keluarga Imam membantah keras tuduhan asusila yang menjeratnya.

Mereka bahkan menunjukkan bukti percakapan pribadi antara Imam dan L yang memperlihatkan hubungan keduanya berlangsung saling menyayangi.

Dalam percakapan itu, L beberapa kali memanggil “sayang”, mengirim foto, dan mengutarakan rindu.

Bahkan ada pesan yang menyiratkan bahwa hubungan mereka mendapat restu.

“Aku kangen… Ini kemauan saya bareng-bareng sama Imam. Saya cuma mau sama Imam. Izinkan saya kembali sama Imam,” tulis L dalam salah satu pesan yang ditunjukkan keluarga.

Pesan lain yang tak kalah membuat heran keluarga berbunyi:

“Mama-nya aku udah nerima kamu… udah nerima hubungan kita.”

Menurut keluarga, hal itu menjadi bukti kuat bahwa hubungan mereka terjalin atas dasar suka sama suka.

“Tidak ada paksaan, apalagi tindak asusila seperti yang dilaporkan,” tegas keluarga.

Diduga Dikeroyok Sebelum Ditahan

Masalah Imam rupanya tak berhenti di situ. Sebelum laporan asusila diproses, Imam lebih dulu menjadi korban dugaan pengeroyokan.

Kisah ini terungkap setelah sang kakek, Alimudin, mendapat kabar bahwa cucunya bisa ditemui di Polres Sumenep pada Senin malam (23/6/2025).

Ia mengaku terkejut melihat kondisi tubuh Imam yang penuh lebam dan telinga kiri mengeluarkan darah.

Merasa ada yang tidak beres, Alimudin langsung melapor ke polisi melalui STTLP.

Menurut penuturan Imam kepada keluarga, aksi penganiayaan terjadi pada Minggu malam (22/6/2025) sekitar pukul 23.00 WIB.

Saat sedang makan di warung lalapan Jalan Trunojoyo, Kolor, seorang pria berinisial Z datang dan diduga mencekik serta menamparnya. Imam kemudian dibawa ke rumah R (Terlapor 2), tempat ia kembali dipukuli.

Kepala Desa Turut Disebut

Situasi semakin rumit ketika Imam mengaku ada pelaku ketiga berinisial B, yang disebut-sebut merupakan seorang kepala desa di Sumenep.

Menurut Imam, B diduga menendang bagian perut bawah dan telinga kirinya.

“Dia bilang ditendang oleh Kepala Desa B. Saya kaget, kok bisa pejabat memperlakukan orang kecil begitu,” ujar Alimudin.

Keluarga meyakini penganiayaan ini memperburuk kondisi Imam yang kala itu sudah dalam keadaan lemah.

Keluarga Minta Perlindungan dan Keadilan

Keluarga Imam meminta penyidik bekerja objektif tanpa memandang status para terlapor.

“Kami hanya mau keadilan. Imam ini korban, tapi justru dia yang ditahan. Jangan sampai kebenaran tertutupi,” kata Alimudin.

Kasus Imam Wahyudi kini menjadi perhatian luas. Apakah ini murni persoalan hukum, atau ada rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan cinta yang tak direstui?

Publik menunggu langkah penyidik untuk membuka fakta sesungguhnya di balik drama panjang ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *