Oleh: Muhammad Aufal Fresky*)
Sebagai pengguna aktif media sosial (medsos), khususnya Instagram, saya kerap kali berselancar di dalamnya. Entah itu untuk mencari informasi, berjejaring, posting gambar/video, atau sekadar mencari hiburan. Di Instagram, saya kerap kali memperhatikan unggahan sebagian kenalan saya. Entah itu terkait kerjaannya, pendidikannya, pencapaiannya, keluarganya, dan lain sebagainya. Kadang kala, saya membandingkan diri saya dengan mereka semua. Betapa terlambatnya perjalanan diri saya. Betapa cepatnya mereka semua melangkah dengan semua pencapaian hidupnya. Sementara di sisi lain, saya di sini seolah lamban dan stagnan. Begitulah kira-kira yang saya pikirkan dan rasakan. Perlahan, saya mulai sadar, ternyata itu semua hanya pikiran yang berlebihan.
Lagi pula, setiap orang memiliki jalan dan alur hidup yang tak serupa. Ada yang di umur 30 tahun sudah mapan namun di sisi lain masih belum menemukan jodohnya. Ada yang di umur belum genap 30 tahun sudah meraih predikat doktor dan menjadi dosen tetap di kampus ternama. Ada yang masih belasan tahun sudah berkeluarga dan memiliki anak dua. Ada yang sudah berkeluarga dan memiliki anak satu tapi masih risau dengan masa depannya. Dan tentunya, masih banyak lagi. Intinya, setiap orang memiliki persoalannya masing-masing. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Bukan siapa yang paling cepat menikah, dapat pekerjaan, dan hidup mapan. Tapi, seberapa konsisten dan sabar kita dalam menghadapi ketidakpastian dan persoalan hidup. Sebab, hidup ini pada dasarnya adalah universitas tanpa gedung, kelas tanpa bangku, proses perkuliahan tanpa dosen.
Jangan pernah berharap terlepas dari yang namanya ujian dalam hidup. Ujian demi ujian pasti datang silih berganti. Persoalan demi persoalan pasti akan menghinggapi kita. Selama kita bernafas, maka jangan pernah sekali-kali berpikir terbebas dari yang namanya ujian/persoalan hidup. Mulai dari persoalan ekonomi, keluarga, pendidikan, relasi dengan tetangga , dan semacamnya. Semua pasti akan kita hadapi. Cepat atau lambat, kita akan belajar bagaimana alur dan proses hidup kita sendiri. Maka wajar bila kita bergegas untuk menimba ilmu kehidupan pada para sesepuh. Sebab, mereka sudah banyak mengalami asam manis kehidupan. Setidaknya, mereka sudah mengalami terlebih dahulu apa yang belumpernah kita alami. Saran dan wejangan para sesepuh atau orang-orang tua itu setidaknya bisa menjadi bekal dalam melangkah ke depannya. Minimal agar kita tidak grusa-grusudalam menjalani hidup.
Kalau kata Sutan Sjahrir, salah satu pahlawan nasional kita, hidup yang tidak diperjuangkan tidak akan pernah dimenangkan. Menurut tafsiran saya, apa yang dikemukakan Sjahrir mengandung artian bahwa memang hidup ini adalah jalan terjal yang penuh dengan duri. Kita yang akanmelewatinya, membutuhkan perangkat berupa mentalitas, kesabaran, daya tahan, ilmu, dan kemampuan adaptasi. Sebab, dunia ini, sekali lagi, bukan tujuan utama. Dunia sebatas jalan dan atau titik persinggahan, yang mau tidak mau, suka tidak suka, kita akan berhadapan dengan beragam dinamika dan persoalan di dalamnya. Tidak bisa mundur ke bekalang, semua harus berjalan ke depan. Sebab begitulah hakikat waktu. Terus bergulir. Maka hanya mereka yang dengan jiwa besar dan mentalitas tangguh yang bisa meraih sesuatu yang besar dalam hidupnya.
Derajat kita di dunia dan akhirat, sebenarnya bergantung bagaimana laku hidup kita di dunia saat ini. Sejauh mana kita berjuang dalam meraih mimpi dan menjadi pribadi yang senantiasa menebar kebermanfaatan kapan pun dan di mana pun kita berada. Sebab, sesungguhnya, dunia ini adalah lahan menanam benih-benih kebajikan. Kelak, semua yang kitatanam, akan kita panen. Dengan iman, ilmu, dan amal, kita hidupkan perjuangan. Berjuang untuk agama, nusa, dan bangsa. Dan terutama berjuang untuk mengendalikan nafsu dalam diri. Nafsu duniawi yang bisa menjatuhkan kita kelembah kehinaan, baik di dunia maupun di akhirat. Sebab, tidak jarang, orang-orang yang sudah di puncak kesuksesannya jatuh terpuruh sebab godaan harta, tahta, dan wanita. Segala upaya dilakukan untuk memenuhi ambisi duniawinya. Meskipun harus melabrak halal dan haram, apa boleh buat. Semua akan dikerjakannya. Kenyataan semacam itu harusnya membuat kita lebih waspada dan hati-hati dalam meniti jalan kesuksesan. Dalam hal ini, kita dituntut selaluberjuang mengendalikan nafsu duniawi kita. Jangan sampai melampaui batas.
Kemudian, kembali pada apa yang telah dikemukakan di awal catatan ini, dalam hidup ini, kita mesti menjadi pembelajar sejati. Pembelajar yang tidak terikat ruang, waktu, dan kurikulum tertentu. Belajar pada alam semesta. Belajar pada kehidupan. Siapa pun bisa menjadi guru kita. Sebab, lewat pembelajaran itu, kita bisa lebih mengenali jati diri kita. Dengan begitu, kita bisa menimbang-nimbang hendak ke mana kita dan langkah-langkah apa yang akan dilakukan mulai hari ini dan seterusnya. Dan ketika kita mulai fokus pada visi, misi, dan target hidup kita, saat itu pula, kita tidak ada waktu untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Sebab, kadang dengan membandingkan dengan segala pencapaian orang lain, bisa membuat kita pesimis, inferior, dan kehilangan kepercayaan diri. Padahal, setiap orang memiliki jatahnya masing-masing. Padahal setiap orang memiliki potensi dan keunikannya masing-masing. Padahal, setiap orang memiliki rezekinya masing-masing. Artinya, jangan terlalu merisaukan segala pencapaian orang lain.
Dalam perkara dunia, lihatlah yang lebih bawah. Dalamperkara akhirat, lihatlah yang di atas. Bukankah begitu ajaran dari Nabi Muhammad SAW. Artinya, kita mesti terpacu untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan. Bukan berlomba-lomba mengumpulkan harta benda. Kecuali harta tersebut kita niatkan hendak akan disedekahkan atau dijadikan alat perjuangan untuk agama, beda ceritanya. Jadi dunia akan bernilai akhirat. Hanya saja, tak bisa dipungkiri, kadang kita meremehkan urusan niat. Mengejar dunia hanya untuk dunia. Artinya, sebatas untuk memenuhi nafsu kita.
Jadi, melalu catatan ini, sebenarnya saya hendak mengingatkan diri saya sendiri dan atau mungkin pembaca sekalian bahwa hidup ini adalah medan perjuangan. Kita harus memiliki mentalitas sebagai pejuang untuk mengarungi bahtera hidup. Anggaplah ujian atau persoalan hidup sebagai batu loncatan untuk naik level. Sebab, dengan ujian kita lebih matang dan dewasa. Dengan ujian kita bisa lebih mengenal dan memahami diri. Dengan ujian pula, bisa jadi cara Tuhanagar kita tidak terlalu terlena dengan dunia ini. Artinya, ujian demi ujian, bisa jadi memang Tuhan agar kita tidak melupakan kehidupan yang lebih hakiki.
Maka dari itu, setiap dari mukmin/muslim harus berhuznuzan dengan segala ketentuan Allah. Terakhir, dalam perjuangan ini, kita mesti melibatkan Allah kapan pun dan di mana pun kita berada. Sebab, hanya Allah yang Maha Kuasa, Maha Besar, dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita dan masa depan kita. Hanya Allah yang bisa membuat segala hal yang menurut kita tidak mungkin dalam sekejap berubah menjadi mungkin. Tugas dan tanggung jawab kita hanya terusberjuang, berjuang, dan berjuang. Dan berjuang untuk mendapatkan ridha Allah, itulah yang paling utama.
*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi












