YAKUSA.ID – Politeknik Negeri Madura menepis soal kabar dugaan keterlibatan mahasiswa magang dalam kasus malapraktik sunat di Kabupaten Pamekasan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pihaknya mengaku hingga saat ini belum menerima informasi dari Dinkes Pamekasan soal mahasiswa magang yang terlibat dalam kasus dugaan malapraktik sunat.

“Ini belum ada kejelasan dari Dinkes Pamekasan. Karena informasinya justru kami dapat dari media,” terang Humas Poltera Taufik Hidayat, melansir Kabarmadura.

Kata dia, pihak kampus tak mungkin menempatkan mahasiswa magang di praktik mandiri perawat (PMP).

“Kami tentu menempatkan mahasiswa magang di RS atau minimal puskesmas,” ujar Taufik.

“Kami sangat menjunjung tinggi aspek profesionalisme dan keselamatan dalam pendidikan vokasi, khususnya di bidang kesehatan,” sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, dugaan malapraktik ini mencuat ke publik setelah pengakuan dari orang tua korban, AR. Dia menceritakan bahwa dirinya memanggil perawat berinisial S ke rumah untuk menyunat anak pertamanya, A, pada 2 Juli 2025 lalu.

Namun, perawat tersebut datang bersama dua mahasiswa magang dari salah satu kampus di Sampang. Justru dua mahasiswa magang itulah yang melakukan tindakan penyunatan terhadap A.

Melihat hal itu, AR merasa cemas karena proses sunat berlangsung cukup lama. Kekhawatirannya semakin bertambah ketika ring pengaman yang dipasang di alat vital anaknya tampak tidak berada di posisi yang semestinya.

Tiga hari setelah disunat, A mulai mengeluhkan rasa sakit. AR pun melaporkan kondisi tersebut kepada perawat S, namun perawat itu menenangkan dan meyakinkan bahwa semuanya masih dalam batas wajar.

Empat hari berikutnya, kondisi A semakin memburuk. AR kembali melapor kepada S, yang kemudian memutuskan untuk melepas ring pengaman tersebut. Setelah dilepas, alat vital A menunjukkan gejala seperti luka bakar.

(YAKUSA.ID/HSB)