Oleh: Moh. Hasanuddin (Alumni MTs Kholid bin Walid, Pondok Pesantren Addurriyyah, Bangkes)
Bagi kami yang hidup dalam tradisi pesantren, kematian bukan akhir cerita. Ia justru seperti estafet—ada tanggung jawab yang berpindah tangan. Itulah yang saya rasakan saat mengikuti haul keempat KH. Muhammad Syafiuddin bin Nahrowi, Jumat sore (16/1/2026) kemarin, di Pondok Pesantren Addurriyyah, Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan.
Sudah empat tahun beliau wafat. Tapi sore itu, halaman pesantren penuh. Santri, alumni, dan masyarakat datang dari berbagai daerah. Dari suasana itu saya sadar, seseorang memang tidak diingat hanya karena siapa dia di masa lalu, tapi karena teladan hidupnya masih terasa dan dibutuhkan sampai hari ini.
Haul sering dianggap sekadar acara rutin: baca doa, tahlil, lalu pulang. Tapi bagi saya, haul lebih dari itu. Ia seperti momen bercermin. Kami datang bukan cuma untuk mendoakan almarhum, tapi juga untuk bertanya pada diri sendiri, apakah ajaran yang dulu beliau sampaikan masih kami pegang, atau justru pelan-pelan kami tinggalkan. Doa yang dibaca terasa bukan sekadar lafal, tapi pengingat agar kami tidak lalai.
KH. Muhammad Syafiuddin bin Nahrowi dikenal sebagai sosok kiai yang sederhana dan tekun. Tidak banyak bicara soal dirinya sendiri. Ilmu beliau dijaga, diamalkan, dan diwariskan dengan penuh tanggung jawab. Dari beliau, saya belajar bahwa ilmu bukan untuk pamer, apalagi untuk mencari pengaruh, tapi amanah yang harus dijalani dengan sikap rendah hati.
Pondok Pesantren Addurriyyah yang beliau tinggalkan pun terasa seperti itu. Bukan hanya bangunannya yang berdiri, tapi nilai-nilainya masih hidup. Di sini, kami diajarkan bahwa beragama tidak cukup di simbol dan penampilan. Yang lebih penting adalah bagaimana bersikap jujur, konsisten, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Hadirnya para kiai dari berbagai daerah, termasuk KH. Muhammad Ahdal Abdurrochim dari Ma’had Ulum Assyar’iyah Sarang, Rembang, membuat suasana haul terasa semakin hangat. Dari situ saya merasa, dunia pesantren memang luas dan saling terhubung. Ilmu tidak berjalan sendiri-sendiri. Ada sanad, ada hubungan antarguru dan murid, yang membuat tradisi tetap hidup tanpa harus menutup diri dari perubahan.
Melihat para santri duduk di kursi yang berjejer rapi, mendengarkan dengan khidmat, saya sadar mereka sedang belajar lebih dari sekadar isi ceramah. Mereka sedang belajar adab: bagaimana duduk, mendengar, dan menghargai ilmu. Dan mungkin, tanpa mereka sadari, sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan peran di masa depan.
Haul ini juga mengingatkan saya bahwa para ulama terdahulu telah menunaikan tugasnya. Kini giliran kami, yang masih diberi waktu untuk menjaga nilai-nilai itu. Bukan dengan cara meniru secara kaku, tapi dengan meneruskannya sesuai tantangan zaman, tanpa kehilangan akarnya.
Saat doa penutup dibacakan, rasanya bukan hanya almarhum yang kami doakan. Kami juga seperti sedang berjanji pada diri sendiri bahwa apa yang diwariskan KH. Muhammad Syafiuddin bin Nahrowi dan para masyayikh Pondok Pesantren Addurriyyah tidak boleh berhenti di cerita dan kenangan. Ia harus terus hidup dalam sikap, pilihan, dan tindakan kami sehari-hari.
Saya meyakini, di situlah makna haul yang hakiki, bukan sekadar merawat ingatan tentang masa lalu, melainkan menyerap hikmah darinya untuk meneguhkan langkah hari ini dan menyalakan arah bagi perjalanan hari esok.

