YAKUSA.ID — Banjir besar yang melanda Provinsi Aceh pada 28–30 November 2025 membawa dampak serius bagi masyarakat di sejumlah kabupaten, terutama Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Aceh Selatan.
Ribuan warga terpaksa mengungsi, puluhan desa terisolasi, akses jalan terputus, dan distribusi bantuan darat masih sulit dilakukan.
Situasi darurat ini mendorong berbagai elemen masyarakat, termasuk Pemuda Aceh Jakarta, untuk bergerak cepat mengoordinasikan bantuan dan mendorong pemerintah memperkuat langkah penanganan bencana.
Hingga Minggu (30/11/2025), BNPB mencatat lebih dari 12.800 warga terdampak banjir. Hujan ekstrem selama tiga hari berturut-turut menyebabkan luapan sungai, longsor di sejumlah titik perbukitan, serta gangguan jaringan listrik.
Relawan melaporkan beberapa desa di Aceh Tamiang tidak dapat dijangkau kendaraan roda empat akibat arus air yang memutus akses jalan utama, sehingga logistik hanya bisa dikirim menggunakan perahu darurat.
Di tengah situasi ini, Ketua Pemuda Aceh–Jakarta Wanda Assyura menjadi salah satu tokoh muda Aceh yang aktif mendorong percepatan penanganan di lapangan.
Ia mengikuti langsung perkembangan bencana dan berkoordinasi dengan jaringannya di berbagai kabupaten.
“Banyak saudara kita yang masih terjebak banjir dan belum menerima bantuan memadai. Kita harus pastikan tidak ada titik yang terlewat,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Minggu (30/11/2025).
Pemerintah pusat telah mengerahkan helikopter BNPB dan TNI sejak Jumat malam untuk menjangkau wilayah yang tak dapat diakses jalur darat. Hari ini, jumlah penerbangan udara ditambah untuk mempercepat distribusi makanan siap saji, selimut, tenda, dan obat-obatan.
Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan bahwa armada udara akan diperkuat agar bantuan lebih cepat dan merata di seluruh wilayah terdampak.
Wanda menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur lapangan, mulai dari relawan lokal, TNI, Polri, BPBD, hingga warga yang bergotong royong mengevakuasi korban banjir.
Ia secara khusus berterima kasih kepada Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto) yang aktif menggerakkan jejaring sosial-kemanusiaan untuk menyediakan donasi, perlengkapan bayi, dan kebutuhan ibu hamil di pos pengungsian.
“Bu Titiek bergerak cepat. Ini dukungan moral yang berarti bagi masyarakat Aceh,” ungkapnya.
Solidaritas untuk Aceh juga mengalir dari berbagai provinsi lain yang pada waktu bersamaan mengalami bencana serupa. Relawan dari Sumatera Barat dan Medan turut mengirim bantuan logistik meski mereka sendiri tengah menghadapi banjir dan longsor.
Menurut Wanda, hal ini menunjukkan kekuatan jejaring kemanusiaan antarwilayah di Indonesia.
Meski bantuan semakin banyak berdatangan, Wanda menekankan pentingnya distribusi yang lebih sistematis.
Ia meminta pemerintah pusat dan daerah untuk menyediakan peta distribusi terbuka, sehingga bantuan masyarakat tidak menumpuk di satu titik dan kosong di titik lain.
“Koordinasi adalah kunci. Transparansi akan mempercepat semuanya,” tegasnya.
Wanda juga mendorong Pemerintah Aceh memperkuat dapur umum, memperluas layanan kesehatan darurat, meningkatkan dukungan psikologis untuk anak-anak, serta memastikan keamanan lansia dan kelompok rentan lainnya di lokasi pengungsian.
Ia memastikan Pemuda Aceh–Jakarta akan terus mengawal proses pemulihan hingga situasi kembali stabil. Posko komunikasi dibuka untuk menampung laporan dari masyarakat terkait wilayah yang belum tersentuh bantuan.
Selain itu, jaringan diaspora Aceh di Jakarta, Medan, Batam, hingga Johor juga telah menggalang dana dan mengirim logistik darurat.
Menutup pernyataan, Wanda mengajak seluruh masyarakat bersikap bijak dan tetap fokus pada aksi nyata.
“Kita hadapi ini dengan kepala dingin, kerja cepat, dan niat baik. Aceh akan pulih jika kita melangkah bersama,” pungkasnya.












