YAKUSA.ID – Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Ansari, meminta Kementerian Agama RI memberikan perhatian serius terhadap kelompok tunarungu dewasa di daerah pemilihannya, Madura, yang tetap berjuang belajar Al-Qur’an dan ilmu agama meski berada dalam keterbatasan fasilitas dan dukungan negara.
Hal itu disampaikan Ansari dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI bersama Kementerian Agama RI yang membahas program kerja dan anggaran tahun 2026 serta isu-isu aktual pada Rabu (28/1/2026) lalu.
Ansari mengungkapkan, di Kabupaten Pamekasan terdapat sekitar 40 orang tunarungu dewasa yang memiliki semangat kuat untuk belajar agama.
“Mereka ini sudah dewasa, tidak masuk sekolah luar biasa (SLB). Tapi mereka belajar Al-Qur’an, belajar agama. Bahkan mereka belajar berpidato dan menulis bahasa Arab,” kata Ansari.
Ia juga membeberkan bahwa proses pembelajaran kelompok disabilitas (tunarungu) tersebut saat ini dibina oleh empat orang guru, terdiri dari tiga guru tunarungu dan satu guru non-disabilitas. Namun, kesejahteraan para pengajar dinilai sangat memprihatinkan.
“Gurunya ada empat orang. Tiga tunarungu, satu normal. Dan gajinya hanya Rp100 ribu per bulan,” ujarnya.
Ia menyerukan agar Kementerian Agama untuk memperhatikan kondisi tersebut. Selain dukungan pembinaan, Ansari juga mendorong agar Kemenag dapat menyalurkan bantuan sarana belajar, termasuk Al-Qur’an, mengingat kelompok tersebut fokus mempelajari kitab suci.
“Barangkali ada bantuan dari Kemenag, misalnya Al-Qur’an, karena mereka belajar Al-Qur’an,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan, Mawardi, membenarkan adanya kelompok tunarungu dewasa yang belajar agama tersebut.
Ia menyebut jumlah anggotanya sekitar 40 orang dan kegiatan dilakukan rutin setiap pekan.
“Terdapat di kita jumlah anggota ada 40 orang. Kegiatannya setiap hari minggu dari jam 10.00 sampai 12.00,” kata Mawardi saat dikonfirmasi, Senin (9/2/2026).
Menurut Mawardi, kegiatan pembelajaran tersebut mulai berjalan sejak koordinator kelompok disabilitas tunarungu bernama Ustadz Mohtar mendatangi Kemenag Pamekasan sekitar Januari 2025.
“Datang ke kami koordinator kelompok disabilitas (tunarungu) namanya Ust. Mohtar. Beliau menyampaikan ingin mengajarkan pengetahuan agama pada kelompok disabilitas ini, cuma terkendala tempat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kemenag Pamekasan kemudian memfasilitasi pelaksanaan kegiatan hingga akhirnya ditempatkan di Masjid Syech Moh Hasyim Asy’ari Kemenag Pamekasan.
“Singkat cerita kemudian Kemenag Pamekasan siap memfasilitasi kegiatan tersebut, yang akhirnya ditempatkan di Masjid Syech Moh Hasyim Asy’ari Kemenag Pamekasan,” ucapnya.
Selain tempat, Mawardi menyebut Kemenag juga menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung untuk pembelajaran, termasuk konsumsi dan honor bagi pengajar.
“Fasilitas pembelajaran, meja, Al-Qur’an, konsumsi makan dan honor untuk pengajar,” ujarnya.
Meski demikian, Mawardi mengakui untuk dukungan yang bersifat program resmi melalui DIPA Kemenag masih belum tersedia. Hal itu karena kegiatan tersebut tergolong baru berjalan.
“Untuk yang sifatnya penganggaran dari DIPA Kemenag masih belum ada, karena baru kali kegiatan tersebut terlaksana,” katanya.
Ia menyatakan akan mengusulkan dukungan anggaran pada tahun ini agar pembinaan bagi kelompok tunarungu dewasa tersebut dapat lebih kuat dan berkelanjutan.
“Saya coba mengusulkan tahun ini, mudah-mudahan bisa terpenuhi. Dan tentu atas dukungan dari mitra kami Komisi VIII, terkhusus Dapil Madura,” tutupnya. (San/Din).












