YAKUSA.ID – Fenomena penipuan yang mengatasnamakan Badan Kepegawaian Negara (BKN) kembali marak dan semakin meresahkan.
Modus terbaru yang beredar melalui pesan WhatsApp menawarkan pengurusan layanan kepegawaian seperti SNIP dan mutasi, namun berujung pada permintaan uang serta pencurian data pribadi.
BKN mengungkapkan bahwa pola penipuan kini semakin terstruktur dan meyakinkan.
Pelaku menyebarkan narasi seolah-olah terdapat kebijakan baru yang mendesak, kemudian mencatut nama pejabat tinggi, termasuk Kepala BKN, Zudan Arif Fakrulloh, untuk membangun kepercayaan korban.
Setelah korban terpancing, pelaku mengarahkan mereka untuk mengakses tautan tertentu yang diklaim sebagai layanan resmi.
Padahal, tautan tersebut merupakan jebakan phishing untuk mencuri data pribadi seperti NIK, dokumen kepegawaian, hingga akses akun sistem ASN.
Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik BKN, Wisudo Putro Nugroho, menegaskan bahwa seluruh informasi yang beredar dengan narasi tersebut adalah hoaks.
Ia menekankan bahwa BKN tidak pernah menawarkan layanan melalui situs tidak resmi atau meminta pembayaran dalam bentuk apapun.
“Seluruh layanan kepegawaian di BKN tidak dipungut biaya alias gratis. Jika ada permintaan uang atau transfer ke rekening pribadi, itu dipastikan penipuan,” katanya dikutip YouTube Ruang Regulasi. Senin, 20 20 April 2026.
BKN juga mengingatkan bahwa seluruh layanan digital resmi hanya menggunakan domain bkn.go.id.
Masyarakat diminta untuk tidak mempercayai tautan dengan domain lain seperti .com atau .net yang mengatasnamakan instansi tersebut.
Selain itu, BKN mengimbau ASN, PPPK, serta calon pelamar untuk tidak membagikan data pribadi kepada pihak yang tidak jelas.
Data tersebut dinilai sangat sensitif dan berpotensi disalahgunakan jika jatuh ke tangan pelaku kejahatan.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diminta segera melaporkan segala bentuk indikasi penipuan ke kanal resmi BKN.
Upaya ini dinilai penting untuk memutus rantai kejahatan yang menyasar komunitas ASN di seluruh Indonesia.
Dengan meningkatnya kasus ini, kewaspadaan dan verifikasi informasi menjadi kunci utama agar tidak menjadi korban penipuan digital yang semakin canggih.(Hn/San)



